Membuatmu menunggu bukanlah sifatku, sungguh aku telah berbuat salah padamu. ……………………………………………….. Otaku lagi mampet.
Hidup Tanpa Nama
09/10/2008 · & Komentar
Oleh: Misbahol Munir*
Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Penulis: Mustofa W. Hasyim
Editor: Retno Suffatni
Penerbit: Pustaka Sastra LKiS, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Januari 2006
Tebal: xiv + 215 Halaman
Hampir dapat dipastikan, semua orang yang masih menghirup udara segar di bumi ini menginginkan popularitas nama. Karena keinginan itulah, tidak sedikit di antara mereka yang rela berbuat apa saja agar popularitas itu bisa diraih.
Cukup banyak contoh yang menunjukkan hal itu. Salah satunya ialah perilaku para politisi kita yang sibuk kunjungan dan memberi bantuan untuk korban-korban di daerah-daerah yang terkena bencana alam beberapa waktu yang lalu. Dengan cara itu, mereka berharap dapat mendongkrak popularitasnya, tentu saja untuk kepentingan politik praktis.
Secara umum, kegilaan masyarakat terhadap gelar itu sudah menjadi problem masyarakat Indonesia. Guna memburu gelar dan popularitas, orang berbondong–bondong mencari cara jitu untuk meraihnya. Mulai dari cara yang baik hingga yang buruk bahkan terburuk. Misalnya, apa yang pernah terjadi di negara kita yaitu jual-beli gelar profesi yang sempat marak dilakukan oleh orang dari berbagai kalangan.
Jual-beli gelar itu membuktikan bahwa masyarakat masih gila dengan nama, status sosial, dan semacamnya. Memang nama dan gelar merupakan sebuah identitas atau tetengar (tanda) seseorang. Nama memberikan ciri atau karakter dan bahkan bisa menyelamatkan seseorang dari prasangka buruk. Sebut saja, Soekarno, Hatta, dan pahlawan bangsa yang lainnya. Dengan mendengar nama-nama itu saja, kita langsung tahu bahwa mereka adalah pejuang bangsa yang berani melawan penjajah atas nama kebebasan dan kemerdekaan.
Dari nama itu pula kita tahu karakter dan prilaku (track record) seseorang. Nama Hitler menunjukkan seorang pemimpin Jerman yang diktator. Dengan seperti itu, nama menjadi penting untuk diketahui. Karena alasan inilah, tidak mengherankan jika semua penduduk negeri ini diwajibkan memiliki kartu tanda penduduk (KTP) untuk memastikan masyarakat yang berdomisili di Indonesia adalah warga negara yang sah dan tidak terlibat sebagai anggota jaringan teroris.
Kegilaan masyarakat terhadap gelar yang marak terjadi belum lama ini itu dikritik keras oleh Musthofa W. Hasyim, lewat novelnya yang bertajuk Burung Tak Bernama. Musthofa memilih Ki Wono sebagai seorang pensiunan jendral dan juga keturunan kraton yang dijadikan tokoh sentral dalam novel ini.
Kritik keras itu tergambar dari i’tikad Ki Wono yang lebih memilih mengubur namanya. Keinginan untuk mengubur namanya itu disebabkan oleh bayang-bayang dosa masa silam yang terus menghantuinya. Dosa yang melumuri masa hidupnya dalam berkarir, karena dia terlibat dalam operasi militer pembantaian kaum santri dan para ekonom lokal yang diyakini terlibat jaringan terorisme.
Baginya, sisa hidupnya dalam masa pensiunan tersebut tidak cukup untuk menebus dosa. Sebab, dia telah tahu bahwa kaum santri dan ekonom lokal itu tidak terlibat dalam jemaah terlarang seperti yang dipersepsikan pemerintah. Operasi itu adalah rekayasa politik global untuk meloloskan pasar bebas. Hanya saja, Ki Wono tidak putus harapan.
Dengan memilih bermukim di lereng gunung dan menjauh dari keramaian kota, Ki Wono berharap dapat dengan mudah menghapus nama dan kenangan hitam masa lalunya. Namun niat mengubur namanya tidak berhasil. Pada akhirnya Ki Wono harus menerima namanya kembali dengan utuh karena berhasil melepaskan penduduk desa yang ditahan tentara karena tidak memperbolehkan sumber air kehidupan masyarakat setempat di rebut alih oleh pemerintah yang berkolaborasi dengan para pelaku bisnis kapitalis. Akhirnya, selamat membaca dan menikmatinya.
→ 3 CommentsKategori: Resensi
Roman Kisah Cinta Di Pesantren
09/10/2008 · & Komentar
Kasih itu sabar, kasih itu murah hati ia tak cemburu, ia tidak menegakkan diri dan tidak sombong, ia tidak melakukan kesalahan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, ia tidak berduka cita karena ketidakadilan. Tetapi, karena kebenaran, ia tidak menutupi segalanya, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu dan sabar menanggung segala suatu apapun yang terjadi.
Kutipan di atas diambil dari sebuah film yang berjudul A Walk To Remember. Di mana film tersebut menceritakan tentang kisah seseorang dalam mencari cinta. Ngomongin cinta tidak pernah ada batasnya. Sebab cinta ada sejak manusia dilahirkan kedunia oleh Tuhan. Cinta merupakan anugerah Tuhan yang paling mulia dibandingkan yang lain. Tuhan menciptakan makhluknya dengan cinta. Karena cintalah manusia ada.
Kehadiran cinta di mata manusia tidak dapat ditolak lagi. Cinta adalah ruh manusia. Ruh yang menggerkakan manusia untuk berkehendak, berkomunikasi, bertetangga, dan bahkan berhubungan. Maka jika ruh itu hilang, manusia tidak lagi dibimbing oleh kasih sayang. Sehingga manusia tersebut hanya dirasuki oleh hasutan Syetan yakni kebencian, kesombongan, kedurhakaan dan lain-lain.
Sedangkan dengan cinta kita dapat menembus segala ruang, batas, dan kelas. Sebut saja Rabi’ah Al Adawiyah. Sosok perempuan yang tidak jauh beda dengan budak. Namun, karena cinta suci yang dimilkinya terhadap yang Maha Kuasa ia bisa melebihi yang lain.
Berbeda dengan orang-orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang. Orang tersebut hanya diselimuti oleh rasa kebencian, kesombongan, dan kerakusan. Maka dari situlah sebenarnya terbentuknya sekat-sekat kelas, borjuis, ploretal, bahkan feodalisme. Kelas borjuis memandang kelas ploretal sebagai orang yang tak pantas untuk dikasihani atau disayangi. Karena anggapan rendah terhadap kelas ploretar tersebut yang mana kaum ploretar tidak memiliki harta yang sepadan dengan kelas borjuis. Akhirnya bukan rasa kemanusian yang tumbuh dalam hati kelompok borjuis tapi rasa kerakusan yang dijunjung tinggi oleh mereka. Sehingga terjadi ketimpangan yang menyebabkan hidup ini tidak harmonis antara orang miskin dan kaya.
Hal serupa juga digambarkan dalam buku Layla Majnun (Buku terbitan Navila). Bagaimana cinta Qais terhadap Layla tidak kesampaian karena perbedaan kelas atau kasta yang ditonjolkan oleh kelompok mereka. Cinta tulus yang datang dari kedua sejoli terhalangi oleh perbedaan kasta mereka. Sehingga keduanya tidak mendapat kebahagian dalam hidup sampai ajal menjemput keduanya. Lagi-lagi karena perbedaan, cinta tersebut tidak dapat bersatu.
Perbedaan sering kali disalahartikan oleh sebagian umat manusia. Perbedaan ternyata bukan diartikan sebagai rahmat bagi umat manusia yang dapat menumbuhkan keharmonisan dalam kehidupannya. Akan tetapi perbedaan malah menjadi malapetaka baginya. Semisal, tindakan anarkisme yang dilakukan oleh salah satu kelompok masyarakat terhadap penyerbuan kelompok Ahmadiyah di Lombok yang baru terjadi kemarin. Atau penghakiman terhadap pengikut ajaran Lia Eden di Jakarta.
Tindakan kekerasan atau terorisme di atas tidak lepas dari kontek perbedaan baik itu perbedaan yang dilatar belakangi oleh ideologi, agama, dan laia-lain. Perbedaan semestinya menjadikan kita bersatu padu membangun negara yang harmonis dan sejahtera bukan malah sebaliknya.
Kebiasaan seperti di atas didobrak oleh Shachree M. Daroini lewat novelnya yang berjudul “Love in Pesantren”. Pesantren sebagai sub kultur budaya Indonesia yang mengajarkan ilmu-ilmu tentang agama yang menjadi ciri khas pesantren. Lembaga yang juga menyimpan tradisi feodalisme yang cukup tingii dan masih kental sampai sekarang.
Lewat novelnya itu Shachree M. Daroini menceritakan sosok santri yang bernama Komarudin dengan berani telah menaruh hati terhadap puteri ustadznya yang bernama Siti. Ketulusan cinta yang datang dari keduanya membuat sistem feodalisme pesantren berdiri kokoh dengan sombong.
Kasih sayang yang datang dari seorang santri terhadap keluarga pesantren merupakan hal yang dilarang oleh hukum keluarga pesantren. Hukum itu diberlakukan demi menjaga nama besar pesantren. Sebab bila salah satu puteri Kyai menjalin hubungan cinta dengan santrinya akan menurunkan kredibilitas keluarga Kyai. Layaknya kasta Sudera berhubungan cinta dengan kasta Brahma.
Kehormatan bukan dicari, sebab kehormatan datang apabila dibarengi dengan kasih sayang kepada semua orang. Dan sebab dengan ketulusan cinta pula wajah bumi akan tersenyum bagai surgawi. Kebaikan selalu ditawarkan oleh jiwa manusia akan mengubah kehidupan jadi sekawanan lebah di penuhi madu yang manis. Jiwa manusia pun akan semakin indah dan damai jika sebuah ungakapan cinta yang indah dan tulus lahir dari lahiriah dan bathiniah untuk mencapai sang Khaliq, sang Pemilik cinta sejati, dialah Allah. Tak ada kuasa lain dari sebuah cinta kecuali milik-Nya, tak ada nafsu lain dari cinta kecuali cinta-Nya (Halm. 271).
Cinta bukanlah nafsu dan cinta bukanlah dosa yang dibebankan oleh Tuhan kepada manusia. Tapi, cinta adalah anugerah yang diberikan kepada setiap insan. Sebab tak ada ajaran mana pun yang melarang umatnya untuk saling mencintai dan menyangi. Karena cintalah umat manusia bisa hidup bersandingan dengan damai. Wallahua’lam
→ 6 CommentsKategori: Kajian
Salam Teruntuk Nabi Besar Muhammad SAW
09/10/2008 · 1 Komentar
Kemarin tepat tanggal 20 Maret 08 merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tidak seperti dulu, waktu aku masih di rumah dan pesantren yang biasa merayakan hari lahir Nabi terakhir. Sudah empat tahun ini aku tidak merayakannya. Bukan persoalaan apa-apa atau tidak ada waktu tapi, hanya persoalaan mendasar saja. Yakni persolaan malas.
Seharusnya saya bisa merayakannya lewat media lain. Karena saya sudah empat tahun menjadi mahasiswa, setidaknya saya bisa merayakannya lewat publikasi tulisan di media. Alternatif itu juga saya tidak melakukan. Aku merasa berhutang pada beliau. Meski telah lewat bulan Maulid, aku tetap akan bershalawat untuk beliau.
Allhumma Shalli Ala Sayyidinaa Muhammad
Kurindukan mereka ya Rasul Allaah
Dini hari di Madinah al-Munawwarah
Kusaksikan para sahabat berkumpul di masjidmu
Angin sahara membekukan kulitku
Gigiku gemertak
Kakiku berguncang
Tiba-tiba pintu hujrah-mu terbuka
Engkau datang, ya Rasul Allaah
Kupandang dikau:
Assalamu alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullaah
Assalamu alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullaah
Kudengar salam bersahut-sahutan
Kau tersenyum, ya Rasul Allaah, wajahmu bersinar
Angin sahara berubah hangat
Cahayamu menyelusup seluruh daging dan darahku
Dini hari Madinah berubah menjadi siang yang cerah
Kudengar engkau berkata:
Adakah air pada kalian?
Kutengok cepat gharibah-ku
Para sahabat sibuk memperlihatkan kantong kosong
Tidak ada setetes pun air, ya Rasul Allaah
Kusesali diriku
Mengapa tak kucari air sebelum tiba di masjidmu
Duhai bahagianya, jika kubasahi wajah dan tanganmu
Dengan percikan-percikan air dari gharibah-ku
Kudengar suaramu lirih
Bawakan wadah yang basah
Aku ingin meloncat mempersembahkan gharibah-ku
Tapi ratusan sahabat berdesakan mendekatimu
Kau ambil gharibah kosong
Kau celupkan jari-jarimu
Subhanallaah, kulihat air mengalir dari sela-sela jarimu
Kami berdecak, berebut, berwudhu dari pancuran sucimu
Betapa sejuk air itu, ya Rasul Allaah
Betapa harum air itu, ya Rasul Allaah
Betapa lezat air itu, ya Rasul Allaah
Kulihat Ibnu Mas’ud mereguknya sepuas-puasnya
Qad qamatish shalaah
Qad qamatish shalaah
Duhai bahagianya shalat di belakangmu
Ayat-ayat suci mengalir dari suaramu
Melimpah memasuki jantung dan pembuluh darahku
Usai shalat kaupandangi kami
Masih dengan senyum yang sejuk itu
Cahayamu, ya Rasul Allaah, tak mungkin kulupakan
Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudera dirimu
Ingin kujatuhkan sebutir debuku dalam sahara tak terhinggamu
Kudengar engkau berkata lirih:
Ayyul khalqi a’jabu ilakum iimaanan?
Siapa makhluk yang imannya paling mempesona?
Malaikat, ya Rasul Allaah
Bagaimana malaikat tak beriman,
bukankah mereka berada di samping Tuhan
Para Nabi, ya Rasul Allaah
Bagaimana Nabi tak beriman,
bukankah kepada mereka turun wahyu Tuhan
Kami para sahabatmu
Bagaimana kalian tidak beriman
bukankah aku ditengah-tengah kalian
telah kalian saksikan apa yang kalian saksikan
Kalau begitu siapakah mereka ya Rasul Allaah?
Langit Madinah bening, bumi Madinah hening
Kami termangu
Siapa gerangan mereka yang imannya paling mempesona?
Kutahan napasku, kuhentikan detak jantungku, kudengar sabdamu
Yang paling menajubkan imannya
mereka yang datang sesudahku
beriman kepadaku
padahal tidak pernah melihat dan berjumpa denganku
Yang paling mempesona imannya
mereka yang tiba setelah aku tiada
yang membenarkanku
tanpa pernah melihatku
Bukankah kami ini saudaramu juga, ya Rasul Allaah?
Kalian sahabat-sahabatku
Saudaraku adalah mereka yang tidak pernah berjumpa denganku
Mereka beriman pada yang gaib, mendirikan shalat,
menginfakkan sebagaian rezeki yang Kami berikan kepada mereka
Kami terpaku
Langit Madinah bening, bumi Madinah hening
Kudengar lagi engkau berkata:
Alangkah rindunya daku pada mereka
Alangkah bahagianya aku memenuhi mereka
Suaramu parau, butir-butir air matamu tergenang
Kau rindukan mereka, ya Rasul Allaah
Kau dambakan pertemuan dengan mereka, ya Nabi Allaah
Assalamu’alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullaahi wa barakaatuh
(Gubahan dari Hadis pada Tafsir ad-Durr al- Mantsur, berkenaan dg Surat Al-Baqarah ayat 3 oleh Jalaluddin Rakhmat 1415 H)
→ 1 CommentKategori: Puisi
Alumni Luar Negeri, Aset Siapa?
09/10/2008 · & Komentar
Erie Sudewo
(Social Entrepreneur)
Karena cuma menghafal nama dan angka tahun, peristiwanya luput dimaknai. Karena tak tahu peristiwanya, benang merah misteri yang membalut peristiwa dari masa ke masa juga sulit disidik. Karena tak bisa disidik, ke mana bergeraknya juga gagal diprediksi. Karena gagal memprediksi, itu tanda berpikir kritis tak dilatih.
Karena tak kritis, salah satu dampaknya anggap sepele sejarah. Karena anggap sepele sejarah, seolah hari esok lepas dari kemarin. Karena tak ada hubungan kemarin dan esok, hari ini kita kebingungan. Karena bingung, jati diri pun lepas.
Karena tak mahfum jati diri, krisis identitas makin parah. Karena krisis identitas, bangsa ini jadi santapan empuk asing. Karena jadi santapan empuk, mudah sekali diakali. Karena mudah diakali, masa depan bangsa ini tergadai. Entah apakah metode hafalan ini strategi kolonial menutupi begitu banyak kekejian dan keculasan mereka. Ya dan tidaknya tergantung sudut pandang. Yang pasti sejarah bukan kumpulan peristiwa tak bermakna.
Ada tonggak-tonggak yang dipahat founding fathers. Itu biduk yang memandu arah masa depan. Memang siapa bilang menggapai cita-cita mudah. Tak ada satu pun bangsa yang berleha-leha lantas sukses. Celakanya, bangsa yang gemar melahap mi instan ini seolah dalam meraih masa depan cukup menyeduh beberapa menit.
Sebagian policy maker kita memang mesti belajar merumus kebijakan. Untuk diri sendiri dan partai, mereka tak usah diajari. Mereka maestro, hingga negara pun rela dilego. Jika strategi jual negara laku dijual, mereka pasti jadi guru besar dunia. Negara ini sudah miskin. Mereka yang menjual negara, kaya-kaya bukan?
Setiap tahun pasti banyak terjadi peristiwa. Kita coba pilah peristiwa yang membuat bangsa ini tak jelas bergerak ke mana. Yang menarik, tahunnya kebetulan berada di sekitar angka tujuh. Lantas sibak di tiap pergantian 10 tahunan. Tapi, camkan, angka 7 dan 10 hanya kebetulan sejarah. Perhatikan saja pada peristiwanya. Lantas telusuri kausalitas makna di baliknya.
Tahun 1957 diam-diam FEUI memulai hubungan dengan Harvard University. Bentuk kerja samanya beasiswa studi. Bagi negara Paman Sam, kerja sama ini amat strategis. Alasannya tentu politik, yang akhirnya mengarah pada ekonomi.
Jangka pendeknya perang dingin antara Rusia dan Amerika sedang hangat-hangatnya, di samping poros Jakarta-Peking sudah dihembus-hembus Soekarno. Jangka menengah mendidik mahasiswa dan pengajar FEUI sebanyak-banyaknya, bukankah langkah besar.
Jangka panjangnya sadar atau tidak, para alumni ini sedang dikader Amerika. Jika 10 atau 20 tahun kelak jadi pejabat, bukankah itu aset? Tapi, aset siapa? Jangan lupa pepatah there is no free lunch bukan tanpa makna. Tahun 1967 Orla baru saja tumbang. Blok Eropa Timur yang dimotori Rusia tertohok. Jakarta-Peking pun dikubur.
Orang-orang Cina di Indonesia resah. Jika ingin selamat, mereka harus beralkulturasi. Sebagian nama Cina pun diubah. KO-nya Blok Timur, kemenangan Blok Barat. Orba pun ditegakkan.
Lirikkan pada Barat, segera terjawab karena kerja sama beasiswa telah hasilkan doktor-doktor ekonomi. Segera di Bappenas dibuat tim yang melibatkan para alumni dan institusi Harvard. Tim ini jadi thingtank pembangunan 25 tahun Indonesia ke depan. Untuk pertama kali era ini ditandai dengan munculnya istilah mafia Berkeley.
Untuk itu Amerika serius kerahkan segala sumber daya. Mengapa? Karena dalam konstelasi politik, Indonesia di masa Soekarno merupakan kekuatan raksasa. Di Asia Tenggara ditakuti. Di Australia amat diperhitungkan. Apa yang dikatakan Soekarno sering mengguncang dunia. Tak heran saat itu sosoknya kerap disejajarkan dengan JF Kennedy dan B Tito (Polandia). Malah Mahathir yang sukses memajukan Malaysia oleh sebagian pihak dianggap ‘Soekarno Kecil’.
Sayangnya seperti yang Richard Nixon katakan: ”Kelemahan Soekarno terletak pada keyakinannya bahwa revolusi belum dan tidak akan pernah selesai”. Artinya, pembangunan tidak hanya dengan pidato retorik, tetapi juga harus dengan bekerja. Tahun 1977 Andi Hakim Nasoetion (IPB) menulis artikel menarik. Saran pertamanya fakultas pertanian di Irian, jangan belajar pertanian sawah. Konsentrasilah pada budidaya sagu. Kedua, bangun pusat-pusat pertukangan di sekitar belantara hutan Kalimantan.
Di Indonesia, saran dari bukan teknokrat telanjur dianggap gangguan. Yang terjadi seluruh fakultas pertanian di Indonesia belajar tentang sawah. Akibatnya, jika tak makan nasi, seolah-olah jadi warga kelas dua. Padahal, kondisi Irian tak layak disawahkan. Kini 220 juta orang Indonesia harus makan nasi. Implikasinya Indonesia jadi negara pengimpor beras terbesar dunia.
Jika saran Andi Hakim Nasoetion digugu, diversifikasi pangan telah terjadi. Usul itu juga bukan hanya mewarisi kearifan lokal, malah bakal menghasilkan produk turunan lainnya. Pusat pertukangan dan sekolah kejuruan perkayuan di Kalimantan pun tak pernah terbangun. Orba lebih suka mencacah hutan dengan membagi-bagi HPH. Jika pusat pertukangan terbangun, Indonesia akan melahirkan banyak ahli pertukangan.
Hutan juga tak akan sekejap gundul karena pertukangan adalah proses jadi profesional. Dengan pertukangan, reboisasi lebih mudah dilakukan. Sementara itu, HPH cenderung mewariskan masalah. Hutan gundul, reboisasi pun akal-akalan. Lingkungan rusak, banjir bandang pun kerap menerjang. Tahun 1987 dalam sebuah seminar di Museum Satria Mandala Jakarta, Dorodjatoen Koentjoro Jakti mengatakan: ”Pada tahun 2.000 nanti akan ada bangsa yang terbukti tak tahu akan dibawa ke mana bangsanya ini.”
Pernyataan ini mengejutkan sebab sangat berseberangan dengan rekan-rekan pengajarnya. Bukankah sobat-sobatnya yang mengarsiteki pembangunan Indonesia? Pernyataan Dorodjatoen menjawab tuntas rumor yang berkembang: Mengapa dia tidak pernah jadi menteri?
Tahun 1997 ucapan Dorodjatoen terbukti. Indonesia dilumat krisis. Diawali dengan moneter, krisis ini terus menebar petaka ke seluruh sektor yang hingga hari ini tak juga siuman.
Akar penyebab diutak atik. Yang dari sekian banyak pendapat, moral buruk dituding jadi biangnya. Moral buruk memang tampak di segenap sisi. Pembangunan selama Orba melahirkan banyak wajah minor. Korup, potong kompas, serba instan, uang pelicin, basa basi, slogan kosong, hingga P4 pun cuma ‘harmoko’, hari-hari omong kosong.
Yang alergi pada mafia Berkeley, menuding kelompok ini punya andil besar meremukkan fondasi perekonomian nasional. Usulan Andi Hakim Nasoetion tak dapat tempat. Bukan hanya mikro, juga amat tak gengsi karena bicara sawah dan pertukangan. Jelang krisis moneter, terjadi dialog opini antara kubu Widjojonomics dan Habibienomics. Habibie pun ditertawai karena membaca clash fow pun diragukan. Lebih-lebih Habibie tawarkan pendidikan yang siap pakai.
Artinya, masuk dalam kelas buruh dan paling banter supervisor. Apa yang dibawa Habibie dan Andi Hakim Nasutioen hanya sektor mikro. Sulit bawa bangsa ini pada kegemilangan. Hasilnya berbagai sekolah kejuruan tutup panggung. STM Pembangunan yang pernah dibanggakan, tak lagi dilirik. SMEA seolah jadi sekolah buangan. Sekolah menengah analis kimia, sayup-sayup sampai. Bahkan, SPG pun mati angin tak punya wibawa apa-apa.
Akhirnya, pada 2007 masyarakat antre minyak tanah. Sebuah fenomena yang hanya layak di zaman kolonial. Antre minyak di atas sumber daya minyak, ini cuma ada di Indonesia. Andai para pemegang kebijakan sesekali bangun sebelum Shubuh untuk antre minyak, mereka pasti bakal memaki pembuat kebijakan.
Hidup ini realistis menjejak bumi. Bukan asyik dengan pendekatan makro, disambut senyum dan tepukan riuh pidato sana sini. Apalagi yang bertepuk tangan hanya segelintir orang, terutama oleh mereka yang asing-asing. Tanpa pesan, penerima beasiswa dapat kesempatan sekolah sebagai anugerah. Karena anugerah, pemberi beasiswa dianggap penjamin masa depan. Karena menganggap dewa, apa pun titahnya dilaksanakan tanpa reserve.
Karena tanpa reserve, apa pun yang diminta diserahkan yang terbaik. Karena yang terbaik diserahkan, hingga perparkiran pun dikelola secure parking. Karena dari parkir hingga eksplorasi sumber daya oleh asing, masa depan negara ini tak jelas ke arah mana. Tanpa pesan, negara ini jatuh.
Mafia Berkeley sebelumnya dituding hanya di satu PT. Kini yang menjabat Menko Ekuin, Menkeu, dan beberapa direktur di Depkeu berasal dari PT yang lain. Soalnya mengapa pendekatan makro tetap jadi fondasi pembangunan?
Ingat there is no free lunch. Tanpa pesan kebangsaan, alumni pendidikan luar negeri telah jadi aset mereka yang asing-asing. Sampai kapan ini disadari?
Ikhtisar:
- Agenda asing di Indonesia sangat banyak.
- Kebijakan pemerintah pun sering mengadopsi kepentingan luar negeri.
~Republika. Rabu, 20 Februari 2008~
→ 2 CommentsKategori: Kajian
Teruntuk Manisku
09/10/2008 · & Komentar
Menjadi seseorang yang kau cintai sangat sulit bagiku untuk membalas seperti yang kau mau. Bukan berarti aku tidak bisa mencintaimu. Atau aku tidak bisa mebalas cintamu. Sederhana bagiku. Aku melihat kau masih belum mempercayaiku untuk mencitaimu. Lalu apa yang harus aku katakan pada dunia? Apabila kau telah terlanjur mencitaiku atau aku telah terlanjur mencintaimu.
Kata-kata itu engkau ucapkan ketika kita telah menjalin hubungan kasih sayang. Jalinan kasih sayang kita belumlah lama, masih terhitung dini. Terhitung muda sebab kita belum sama-sama mengerti tentang apa yang kita suka satu sama lain. Soal selera, warna, hobi dan obrolan.
Tapi, kau sudah ucapkan kata Cinta. Entah apa yang membuatmu yakin kau mencitaiku? Akupun heran dan sempat bertanya-tanya. Jangan-jangan kau hanya mau menggobaliku atau ada maksud tersembunyi dari ucapan manismu?
Aku tak peduli semua itu. Mencitai atau dicintai merupakan dua persoalaan serius bagiku. Mencitai memiliki konsekwensi untuk selalu memberi terhadap objek yang dicintai. Ia berberposisi menajdi subjek yakni pemberi. Sedangkan dicintai berposisi sebagai penerima atau objek dari yang mencintai.
Persoalaannya adalah mana yang lebih baik kita miliki atau kita sandang? Tentunya, semua itu tergantung dari sudut pandang kita. Lebih baik “mencintai atau dicntai”.
→ 3 CommentsKategori: Curhat
The Death of Sukardal
09/10/2008 · Tinggalkan sebuah Komentar
Sukardal, 53, tukang becak mati gantung diri, karena becaknya tgl 2 juli 1986 disita petugas tibum. Seorang dari sekian ratus ribu yang kehilangan mata pencarian di indonesia. ia mati tapi tidak membisu. Sukardal menggantung diri pada umurnya yang ke-53.
Tukang becak tua ini kehilangan becaknya, pada tanggal 2 Juli 1986 malam, di sebuah perempatan Kota Bandung. Para petugas Tibum, sesuai dengan peraturan dan perintah atasan, menyita becak itu.
“Kasihan,” kata sebagian orang. “Kok sampai begitu,” kata sebagian yang lain. “Tapi putus asa adalah dosa,” kata para pemberi petuah (dan iklan tabib). “Ekstrem,” kata seorang pejabat. “Barangkali ada pihak ketiga,” kata pejabat lain.
Sukardal mungkin tidak tahu siapa pihak ketiga, siapa pihak pertama, siapa pihak kedua. Ia telah mencoba berebut mempertahankan becaknya dari sitaan petugas. Ia telah diseret ke arah parit. Ia telah menendang. Ia telah diseret lagi dan dinaikkan ke mobil. Ia telah berontak dan berhasil turun dari mobil.
Tapi ia melihat becaknya telah diangkut truk, ia melihat sumber hidupnya terbang, maka ia kembali meloncat ke arah mobil Tibum yang berjalan. Ia menggandul pada mobil itu, dan berteriak-teriak, “Saya mau bunuh diri …. Saya mau bunuh diri ….”
Dan benar: Sukardal kemudian menggantung diri, di sebuah pohon tanjung, di depan sebuah rumah di Jalan Ternate.
“Kasihan,” kata sebagian orang. “Kok sampai begitu,” kata sebagian yang lain. “Tapi kami hanya menjalankan tugas,” kata para petugas Tibum. “Dan pers jangan membesar-besarkan perkara ini,” kata seorang pejabat.
Apa yang besar sebenarnya? Apa yang kecil? Satu dari 18.000 becak di Kota Bandung adalah soal kecil. Seorang dari sekian ratus ribu orang yang kehilangan mata pencaharian di Indonesia kini adalah soal kecil. Lagi pula, pada saat satu Sukardal mati, di sebuah sudut, satu genius yang sama hebat dengan Habibie mungkin baru lahir di sudut tanah air yang lain. Penderitaan manusia adalah ombak yang tak bisa dielakkan dari sejarah sebuah bangsa….
Penderitaan manusia?
Beberapa saat sebelum mati, Sukardal menulis sepucuk surat wasiat. Ia bicara kepada anaknya yang sulung: “Yani, adikmu kirimkan ke Jawa, Bapak sudah tidak sanggup hidup. Mayatku supaya dikuburkan di sisi emakmu.” Dan Yani, 22 tahun, yang bersama tiga adiknya yang kecil-kecil tinggal di sebuah bilik 4 x 4 m (yang disewa), tak sanggup. Wasiat itu terlalu berat. Mengirimkan jenazah ke Majalengka dari Bandung, bagi mereka, bukan perkara kecil.
Apa yang kecil sebenarnya? Apa yang besar?
Seorang bapak yang selama ini sendirian merawat anak-anaknya, dan jarang marah, adalah sesuatu yang besar bagi anak-anak itu. Sebuah becak yang seharga Rp 50 ribu, dan baru saja lunas dicicil, adalah sesuatu yang besar bagi keluarga itu.
Satu setengah meter dari pohon tempat Sukardal mati, ada tembok. Di sana tertulis (kemudian dihapus oleh petugas kepolisian): “Saya gantung diri karena becak saya dibawa anjing Tibum”.
Becak saya, kata Sukardal. Ada kebanggaan memiliki. Ada rasa marah karena sebuah hak direbut. Ada makian: huruf-huruf itu memprotes dan sekaligus putus asa. Dengan kata lain, sebuah perkara besar, karena ia justru terbit pada seorang yang begitu kecil.
Orang yang kecil adalah orang yang memprotes dengan keyakinan tipis bahwa protes itu akan didengar, dan karena itu teriaknya sampai ke liang lahad.
Seperti sebuah sajak, ditulis oleh seorang penduduk Chichibu, di sebelah barat Tokyo, ketika Jepang belum lagi kaya di akhir abad lalu, setelah petani-petani miskin mencoba berontak di tahun 1884 dan kalah dan terkubur:
Angin bertiup
Hujan jatuh
Anak-anak muda mati.
Keluh kemiskinan
Berkibar seperti bendera . . .
Kata di nisan kami,
Yang tertimbun badai salju 1884,
Tak nampak oleh yang berkuasa
Maka di saat-saat begini
Kami harus menjerit setinggi-tingginya.
Sukardal juga sebenarnya mencoba menjerit tinggi-tinggi. “Kalau betul-betul negara hukum, Tibum harus diusut,” tulis tukang becak itu sebelum mati, pada tembok. Dia bilang, kalau betul-betul. Dia tidak bilang, karena ini negara hukum….
Sukardal meminta, dengan leher terjirat dan nyawa melesat, dan itu berarti dengan keras — karena ia sesungguhnya tidak begitu yakin.
Bagaimana ia bisa yakin? Ia pasti tahu ia bukan termasuk mereka yang bisa menang. Ia bahkan mungkin tak termasuk mereka yang pernah menang. Orang kecil adalah orang yang, pada akhirnya, terlalu sering kalah. Sukardal telah lewat setengah abad: sudah teramat tua untuk memilih kehidupan lain, terlampau tua untuk berontak. Tapi ia, yang tamat sekolah menengah, yang datang dari sebuah kampung di Yogya dan berdagang kecil di Jakarta, toh masih merasa perlu menuliskan pesannya. Ia mati, dan ia tidak membisu. Dan hidup kita, kata seorang arif bijaksana, terbuat dari kematian orang-orang lain yang tidak membisu.
Goenawan Mohamad
~Majalah Tempo, Edisi. 21/XIIIIII/19 – 25 Juli 1986~
→ Tinggalkan KomentarKategori: Kajian
Happy Valentine’s Day
09/10/2008 · & Komentar
Meski hari ini MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengharamkan umat muslim mengucapkan selamat hari Valentine (Kamis, 14 Feb 08) tapi saya tetap mengucapkan selamat hari Kasih Sayang (Valentine’s Day) bagi yang merayakannya. Dan bagi yang tidak merayakannya salam sayang dari saya untuk semua. Sebab Tuhan menganjurkan untuk saling menyayangi sesama manusia dan makhluk lainnya.
→ 5 CommentsKategori: Curhat
Wajah Ironis Pendidikan Kita
09/10/2008 · & Komentar
Dari tahun ketahun permasalahan pendidikan tidak pernah terselesaikan. Seringkali permasalahan itu dinomorduakan oleh elemen pemerintah maupaun elemen masyarakat lainnya. Semestinya pendidikan menjadi permasalahan inti dari kebobrokan bangsa ini. Apabila bangsa tidak bisa memberi solusi terhadap permasalahan pendidikan masa kini maka tentunya akan berimplikasi terhadap permasalahan yang lain.
Perdebatan tentang pendidikan yang cukup ulet ini tidak hanya dilakoni oleh para pakar pendidikan. Bahkan berbagai elemen juga turut serta sehingga tidak heran jika permasalahan itu tidak pernah menemukan jalan keluarnya. Mestinya permasalahan tahun kemarin menjadi pelajaran supaya tidak terulang kembali di tahun mendatang. Akan tetapi, realitanya malah sebaliknya, permasalahan kemarin terulang lagi. Parahnya lagi, permasalahan kemarin belum terselesaikan malah datang permasalahan baru. Lubang lama belum tertupi di tambah lagi lubang yang baru. Maka permasalahan pendidikan dari tahun ke tahun menjadi menumpuk. Begitulah kiranya yang terjadi bagi negara Indonesia sekarang ini.
Permasalahn tentang pendidikan yang terjadi tidak hanya terfokus pada satu problem, mulai dari lemahnya political will pemerintahan terhadap pendidikan, rendahnya kesadaran kepemimpinan bangsa bahwa pendidikan adalah investasi utama bagi kelangsungan bangsa dan kesadaran akan makna pendidikan sebagai investasi utama.
Lemahnya political wiil pemerintah terhadap pendidikan ini di sebabkan oleh beban hutang negara yang sangat besar terhadap luar negeri. Alokasi dana yang seharusnya besar terhadap kebutuhan pendidikan menjadi kecil karena alokasi tersebut dialihkan untuk hutang negara yang mendesak terhadap hutang luar negeri. Sehingga implikasi yang harus diterima oleh lembaga pendidikan untuk mencukupi kebutuhannya tidak lagi tercukupi.
Minimnya kesadaran pemerintah bahwa pendidikan adalah investasi utama ini terbukti dengan ketidakseriusannya dalam menangani permasalahan pendidikan. Fenomena yang terjadi dari generasi ke-generasi mulai pemerintahan orde lama sampai orde baru bahkan sampai saat ini tidak ada yang fokus untuk menangani pendidikan sebagai investasi utama. Semisal Bung Karno hanya mementingkan pendidikan rakyat melalui gerakan massa yang bersifat politik. Hal ini menunjukkan rendahnya perhatian terhadap pendidikan sekolah. Sama halnya dengan pemerintahan Soeharto pendidikan menjadi dikesmpingkan karena lebih mengutamakan Depelopmentalisme yang lebih mengarah pada kepentingan kelompok atau kepentingan keluaraga sendiri. Sehingga pendidikan yang tidak mendudukung terhadap pembangunan di masa itu menjadi tereliminasi. Tidak jauh beda dengan pemerintahan B.J. Habibie yang hanya mengusung kepentingan kelompoknya sebagai generasi yang menstimuluskan agenda Developmentalisme sebelumnya. Akhirnya terjebak dengan perdebatan tentang pendidikan yang bersifat sains dan humaniora.
Pemerintahan lintas generasi itu membawa efek yang sangat besar terhadap kebobrokan lembaga pendidikan dan generasi didik bangsa. Tidak heran jika masyarakat selalu mempertanyakan output pendidikan sendiri. Seringkali yang kita lihat output dilapangan adalah generasi koruptor terdidik. Sebab, sejak awal mulai dari penerimaan murid baru atau mahasiswa baru sekalipun dalam lembaga dunia pendidikan adalah tawar menawar harga. Barang siapa yang memiliki banyak duit dialah yang akan mendapatkan lembaga pendidikan yang bermutu. Disini terjadi ketimpangan yakni diskriminasi antara kaya dan miskin. Dan lagi penyeleksian lembaga pendidikan yang bermutu masih terjebak dengan sistem nilai yang tinggi. Sehingga yang terjadi pula diskriminasi antara orang pintar dan bodoh. Maka yang namanya orang ketiga yakni miskin dan bodoh tidak mendapatkan jatah untuk menduduki pendidikan yang bermutu sebagaimana khalayak yang lain. Tidak jarang kita lihat, dengar, dan mebaca diberbagai media baik televisi, radio, bahkan koran sekalipun. Anak-anak kecil ngamin dijalanan di waktu jam sekolah, siswa bunuh diri itu semua dikarenakan tidak mempunyai cukup biaya untuk biaya pendidikan dan masih banyak lagi generasi bangsa ini yang nasibnya serupa dengan mereka.
Dalam buku Darmaningtyas “Pendidikan Rusak-Rusakan”(LKiS, 2005) ia membedah wajah ironis pendidikan negeri ini. Sebab pendidikan tidak lagi memanusiakan manusia sebagaimana mestinya. Pendidikan sekarang ini hanya milik segelintir orang. Hanya orang borjuislah yang dapat menikmati pendidikan tersebut. Sehingga anak didik tidak lagi mementingkan proses belejar akan tetapi mementingkan “cepat lulus” dan cepat menadapatkan kerja. Dengan alasan biaya pendidikan yang cukup mahal dan alasan yang paling menthok adalah ingin membantu meringankan beban orang tua (baca: Hlm, 209). Hal ini merupakan bukti konkrit yang sering dilontarkan oleh para pelajar. Realitas ini pula yang sudah merubah kontrsuk para pelajar bahkan masyarakat umum lainnya. Akhirnya orang-orang yang berpendidikan pada saat ini tidak lagi peduli dengan realitas sosial. Melupakan dirinya sebagai makhluk sosial yakni individu adalah bagian dari masyarakat.
Maka apa yang dikatakan oleh Darmaningtyas ini adalah ajakan terhadap masyarakat untuk menuntut hak pendidikan sebagaimana termaktub dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945 yang secara adil dan merata. Tentunya juga kritik bagi pemerintah dan elemen lainnya untuk lebih sadar memperhatikan pendidikan sebagai investasi utama bangsa, dan memeperbaiki wajah pendidikan yang rusak-rusakan sehingga orientasi pendidikan kembali seperti apa yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa seperti semula.
Pendidikan sebagai ujung tombak bangsa untuk memperbaiki kebobrokan dan menjunjung tinggi nama baik republik tercinta ini. Maka warisan terakhir bangsa ini yang sebenarnya adalah pendidikan. Jika keadaan tanah air ini bobrok maka bisa kita lihat dari wajah pendidikan itu sendiri. Sekaligus pendidikan sebagai kunci jawaban terakhir bangsa ini.***
→ 4 CommentsKategori: Kajian
Kontrak Politik
09/10/2008 · 1 Komentar
Wakil rakyat bukanlah orang yang hanya bersenang-senang dan menambah penghasilannya lebih tinggi. Akan tetapi memperjuangkan kepentingan rakyat. Dalam keadaan yang carut marut ini wakil rakyat sudah tidak lagi memiliki rasa empati sedikitpun terhadap rakyat.
Terbukti dengan naiknya bahan pokok dan di tambah lagi dengan kebijakan impor kedelai. Hal tersebut merupakan sebuah bukti konkrit bahwa anggota dewan yang mengatasnamakan dirinya sebagai “wakil rakyat” tidak memberikan perubahan yang lebih signifikan terhadap kondisi ekonomi bangsa ini. Bahkan mereka hanya menambah penderitaan bangsa ini makin mendalam. Dalam kondisi seperti ini jelas rakyatlah kembali menjadi korbannya.
Fenomena tersebut merupakan corak perpolitikan bangsa kita. Bahwa sepanjang ini politik di negeri kita di maknai dengan pertempuran kekuatan antara satu kelompok partai dengan kelompok lain. Sehingga apa yang seharusnya diperjuangkan oleh wakil rakyat tidak lagi tersentuh.
Politik bukan sebuah perhelatan kekuatan sebagaimana definisi di atas, akan tetapi politik seharusnya menajdi alat komunikasi yang nantinya menemukan titik kesepakatan diantara berbagai kepentingan begitulah kata Habermas. Sehingga hal yang lebih substansial untuk diperjaungakan oleh Dewan Perwakilan Rakayat (DPR) tidak sia-sia begitu saja.
Kelangkaan kedelai dan naiknya bahan pokok merupakan kebijakan yang bertentangan dengan kondisi sosial masyarakat. Apapun alasannya, sebab tidak masuk akal apabila anggota dewan tidak dapat memberikan suatu perubahan yang lebih baik atau memperjuangkan aspirasi wong cilik kecuali menaikkan dan menambah penghasilan mereka lebih besar.
Mandulnya peran wakil rakyat sebagai corong wong cilik menurut Hieronimus Dey Rupa (Kompas, 2005), menunjukkan tiga problem. Pertama, rapuhnya bangunan hidup berbangsa, terkait dengan terkikisnya spirit kebangsaan sebagai fondasi hidup bersama. Kedua, inkonsistensi sumpah wakil rakyat. Wakil rakyat yang di tugasi menyuarakan aspirasi rakyat tidak secara total melakukan fungsi sebagai mana mestinya. Muncul sikap acuh tak acuh (apatisme) “yang terpilih” terhadap “yang memilih” yakni konstituennya. Ketiga, tradisi diam dan tumbal rakyat. Sejarah mencatat tekanan senantiasa menaungi hidup masyarakat Indonesia. Berbagai kebijakan yang diambil menuntut dan memaksa rakyat rela menanggungnya. Dan karena ketidak berdayaannya – akibat wakil rakyat yang mandul – lagi-lagi rakyat menjadi korban dan tumbal kebijakan pemerintah.
Tiga hal tersebut di atas menyebabkan terjadinya anomali anggota DPR terhadap fungsi dan keberadaannya bagi rakyat. Dengan kata lain, lembaga DPR telah menunjukkan disorientasi-politik. Yakni, berpaling dari harapan rakyat.
Sebaliknya, yang terjadi pada masyarakat adalah krisis kepercayaan terhadap wakil–wakilnya yang tidak lain akibat perilaku sosial-politik mereka selama ini. Mereka tidak pernah merefleksikan diri sebagai seorang wakil rakyat, tidak peka terhadap aspirasi dan kebutuhan rakyat. Disaat rakyat dilanda kelaparan, bencana, kekurangan gizi, dan penyakit, mereka justru sibuk membicarakan pemenangan pemilu 2009. Meski hal itu menjadi bagian tugas mereka tapi, melebihi prosentase yang semestinya kerjakan. Hal demikian tersebut menunjukkan rendahnya sense of crisis yang mereka miliki. Realitas inilah yang kemudian mendorong dibuatnya kesepakatan antara rakyat dan para wakilnya yang berupa kontrak politk.
Kontrak politik yang telah dilakukan mereka, merupakan sebuah bukti kebersedian untuk berkomitmen terhadap kepentingan rakyat. Bisa dikatakan bahwa hal itu termasuk langkah maju dari pada pemerintah sebelumnya. Sebab, dari kontrak politik itulah rakyat dapat melihat kinerja mereka. Seolah-olah prilaku mereka yang sebelumnya bejat akan teratasi dengan kontrak politik ini.
Kita tidak melihat sisi gelap anggota dewan yang hanya bisa membuat kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Rakyat semakin diperas habis dan semakin dijerumuskan kelubang kemiskinan. Realitas ini tidak lain adalah sisi gelap dari kontrak politik yang telah ditandangani anggota wakil rakyat kali ini.
Ada beberapa sisi gelap yang patut diperhatikan kita semua. Pertama, sistem hukum di Indonesia tidak mengenal bentuk ikatan sosial-politik sehingga tidak ada kekuatan hukum untuk menyeret pelanggar kontrak, sebagaimana yang terjadi di tubuh anggota dewan. Malahan katanya Guntur dari PHBI ” yang ada justru mencari UU yang mengatur tentang hal tersebut, dan disinilah kontrak politik tidak dapat berbicara banyak”(perda partisipasi, Ed.II Des 2004).
Kedua, tidak ada mekanisme yang jelas tentang kontrak politik sehingga kontrak tersebut menjadi multi interpretatif. Berbeda dengan kontrak bisnis, kontrak politik yang ada adalah kepntingan semata. Maka solusi yang terjadi bukanlah penyelesaian lewat pengadilan melainkan konferensi pers, dukungan wacana, dan politik dagang sapi. Sehingga kebenaran yang ditemukan nantinya tergantung pada besarnya dukungan politik dan massa yang banyak.
Ketiga, multi makna dan tidak dilengkapi indikator keberhasilan seperti: bersedia menjalankan kontrak politik, setia terhadap pemerintah, jujur, dan bekerja keras, serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan individu atau kelompok. Sehingga tidak terjadi seperti saat ini yakni anggota DPR hanya bisa melakukan koferensi pers dibanding rakyat yang tinggal satu hembusan nyawanya.
Bila hal ini terus terjadi, kita tidak susah payah lagi mencari siapa aktor yang seringkali menjerumuskan rakyatnya ke dalam jurang kemiskinan, kebodohan, dan kebobrokan bangsa ini. Akibatnya, kita akan kesulitan membangun bangsa ini dan membawanya keluar dari krisis yang berkepanjangan.***
→ 1 CommentKategori: Kajian
