Remaja & Seks Bebas; ABG Impikan ke Belanda Demi Seks Bebas

Misbahol Munir – Okezone

JAKARTA – Hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa lembaga penelitian terkait perilaku seks pra nikah yang semakin meningkat, tidak bisa dipungkiri.

Peningkatan ini harus direfleksikan secara mendasar. Kembali pada persoalaan penelitian tersebut, baik secara metodologi atau dari sisi lain memang tidak ada yang bisa mengingkarinya. Berapapun angka yang ditunjukkan dari hasil penelitian tersebut, itu merupakan realitas yang terjadi dalam kehidupan para remaja kita.

Menurut Nia Dinata, sineas yang yang kerap mengangkat tema perempuan, prilaku tersebut tidak bisa disalahkan. Meski dia tidak begitu tahu dan tidak pernah mendalami persoalan perilaku seks remaja pra nikah namun dia punya pengalaman pribadi yang terjadi dalam kehidupan rumah tangganya sendiri.

Ibu dua anak tersebut pun menceritakan perihal pengalamannya yang berkaitan dengan seks pra nikah di kalangan remaja. Suatu hari, anak lelakinya yang berumur 13 tahun dan sedang duduk dibangku kelas sembilan menanyakan hal terkait seks. Yakni kenapa adiknya baru lahir empat tahun kemudian.

“Mom, adik umur empat tahun. Selisih empat tahun dengan saya. So, apa yang mama lakukan selama empat tahun, apa mama tidak melakukan seks dengan papa?,” ungkap Nia meniru ucapan anaknya.

Nia pun mencoba menjelaskan dengan terus terang kepada anaknya yang bisa dibilang ABG (anak baru gede) itu. Sebab baginya pertanyaan itu harus dijawab dengan tepat untuk memberi pengetahuan tentang seks sejak dini. Dikatakan Nia, pengetahuan seks sangat penting bagi anak supaya tidak salah langkah dalam memahaminya.

“Mama dan Papa tiap hari butuh seks. Semua butuh seks termasuk kamu juga,” jawab dia.

Dia bersama suaminya pun menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana hubungan seks terjadi, hingga bertemunya sel telur perempuan dan sperma lelaki. Nia tak tanggung-tanggung ingin memberi penjelasan kepada anaknya.

Dari percakapan Nia dan anaknya, dia berpikir bahwa semua anak sebaya anaknya pasti juga ingin mengetahui persoalaan seks. “Lantas bagaimana caranya untuk memberi informasi yang benar? tuturnya. “Hal yang salah bila terus-menerus mengekang anak supaya tidak menanyakan hal semacam itu,” imbuhnya.

“Bahkan jika dikekang, seorang anak bisa melakukan suatu yang tidak bisa dikontrol oleh orang tua. Karena anak lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan, seperti teman dan lingkungan masyarakat sekitarnya,” tambahnya.

Hal yang lebih parah menurut Nia, ketika anaknya menyatakan keinginannya untuk menabung dan pergi ke Belanda supaya bisa menikmati seks yang legal. “Saya pernah tersentak ketika anakku bilang, Mom aku ingin nabung dan pergi ke Belanda menikmati seks. Karena di sana bebas dan legal,” sejenak ia pergi ke kamar mandi dan mengucurkan air mata karena anaknya bilang seperti itu. Dia mencoba bersikap tenang dan menanggapinya. “Kamu tahu dari siapa? Tanyanya. “Dari teman-teman di sekolah,” jawab anaknya.

Menghadapi semacam itu, Nia mengatakan remaja harus diberi arahan dan diberi pengetahuan tentang pendidikan seks. Bahkan menanggapi pernyataan anaknya sebagaimana disebut atas. Dia tak segan-segan memberi izin pada anaknya, dengan catatan, anaknya harus memiliki pengetahuan tentang pendidikan seks.

Di samping itu, dia menyatakan kepada anaknya, untuk melakukan seks tidak harus pergi jauh-jauh dari Indonesia. Silakan kamu lakukan di Tanah Air tapi kamu harus tahu tentang bagaimana penyakit menular, HIV/AIDS dan lain sebagainya.

“Silakan kamu melakukan itu dengan pacarmu tapi dengan syarat sama-sama mau. Tapi kamu tahu dulu tentang sex education. Tentunya, satu sama lain harus bisa bertanggung jawab atas perbuatannya,” katanya.

Kembali pada persoalan seks pra nikah di kalangan remaja yang semakin menjamur maka yang paling dibutuhkan sekarang adalah pendidikan seks yang sehat. Menjelaskan bagaimana tentang penyakit menular dan bahaya seperti HIV/AIDS.

“Hal yang paling penting adalah memberi pengetahuan tentang pendidikan seks sehat dan bahaya penyakit menular layaknya HIV AIDS,” kata dia.

Hal lain yang juga harus diperhatikan pemerintah adalah soal seberapa tinggi pengetahuan remaja tentang pendidikan seks dibandingkan negara lain. “Pemerintah seharusnya melakukan penelitian tentang peningkatan pengetahuan remaja mengenai pendidikan seks di negeri kita dibanding negara lain,” ujar sutradara film Berbagi Suami itu.

“Jika para remaja sudah paham betul tentang pendidikan seks maka dia bisa dipastikan mereka sudah bisa menjaga dirinya dari segala godaan. Dan dia juga tahu kapan ia harus melakukan seks,” pungkasnya.

Happy New Year 2011

Aku terus menatap cakrawala, semakin yakin aku akan segera mencapainya. Semoga di tahun baru 2011 ini aku bisa meraihnya dengan penuh keyakinan. Amin…!
Selamat tahun baru 2011, semoga tahun ini kesuksesan akan selalu menyertai kita semua. Amin…!

“Menulis”

Dulu sewaktu menjadi mahasiswa banyak sahabat menyarani saya untuk menulis. Dia bilang, “menulis itu punya banyak keuntungan, salah satunya yang paling sederhana menulis akan memudahkan kamu dalam mengerjakan tugas kuliah”, lanjutnya. Sejenak saya berfikir dan merenungkan saran sahabatku tadi. Perlahan aku mulai menerima alasan temanku. “Ya juga yah”, bisikku dalam hati sambil menganggukkan kepala.

Saya pun mulai berkeinginan untuk belajar menulis. Tak lama kemudian temanku melanjutkan pembicaraannya yang sejenak terhenti seakan memberikanku waktu berfikir. Ia melanjutkan pembicaraannya, “selain itu, kamu bisa dapat keuntungan”, Imbuhnya.

“Kamu bisa mengirimkan tulisanmu ke berbagai media, dari situ kamu dapat reward”. Lanjutnya. Akupun mulai tambah semangat untuk menulis. Perlahan aku mulai mengingat masa lalu saya. “Yah, aku pernah belajar jurnalistik sewaktu Aliyah (SMA). Kenapa potensi itu nggak aku memaksimalkan? tanyaku dalam benak. Bersambung….

Hidup Tanpa Nama

Oleh: Misbahol Munir*

Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Judul: Burung Tak Bernama

Penulis: Mustofa W. Hasyim

Editor: Retno Suffatni

Penerbit: Pustaka Sastra LKiS, Yogyakarta

Cetakan: Pertama, Januari 2006

Tebal: xiv + 215 Halaman

Hampir dapat dipastikan, semua orang yang masih menghirup udara segar di bumi ini menginginkan popularitas nama. Karena keinginan itulah, tidak sedikit di antara mereka yang rela berbuat apa saja agar popularitas itu bisa diraih.

Cukup banyak contoh yang menunjukkan hal itu. Salah satunya ialah perilaku para politisi kita yang sibuk kunjungan dan memberi bantuan untuk korban-korban di daerah-daerah yang terkena bencana alam beberapa waktu yang lalu. Dengan cara itu, mereka berharap dapat mendongkrak popularitasnya, tentu saja untuk kepentingan politik praktis.

Secara umum, kegilaan masyarakat terhadap gelar itu sudah menjadi problem masyarakat Indonesia. Guna memburu gelar dan popularitas, orang berbondong–bondong mencari cara jitu untuk meraihnya. Mulai dari cara yang baik hingga yang buruk bahkan terburuk. Misalnya, apa yang pernah terjadi di negara kita yaitu jual-beli gelar profesi yang sempat marak dilakukan oleh orang dari berbagai kalangan.

Jual-beli gelar itu membuktikan bahwa masyarakat masih gila dengan nama, status sosial, dan semacamnya. Memang nama dan gelar merupakan sebuah identitas atau tetengar (tanda) seseorang. Nama memberikan ciri atau karakter dan bahkan bisa menyelamatkan seseorang dari prasangka buruk. Sebut saja, Soekarno, Hatta, dan pahlawan bangsa yang lainnya. Dengan mendengar nama-nama itu saja, kita langsung tahu bahwa mereka adalah pejuang bangsa yang berani melawan penjajah atas nama kebebasan dan kemerdekaan.

Dari nama itu pula kita tahu karakter dan prilaku (track record) seseorang. Nama Hitler menunjukkan seorang pemimpin Jerman yang diktator. Dengan seperti itu, nama menjadi penting untuk diketahui. Karena alasan inilah, tidak mengherankan jika semua penduduk negeri ini diwajibkan memiliki kartu tanda penduduk (KTP) untuk memastikan masyarakat yang berdomisili di Indonesia adalah warga negara yang sah dan tidak terlibat sebagai anggota jaringan teroris.

Kegilaan masyarakat terhadap gelar yang marak terjadi belum lama ini itu dikritik keras oleh Musthofa W. Hasyim, lewat novelnya yang bertajuk Burung Tak Bernama. Musthofa memilih Ki Wono sebagai seorang pensiunan jendral dan juga keturunan kraton yang dijadikan tokoh sentral dalam novel ini.

Kritik keras itu tergambar dari i’tikad Ki Wono yang lebih memilih mengubur namanya. Keinginan untuk mengubur namanya itu disebabkan oleh bayang-bayang dosa masa silam yang terus menghantuinya. Dosa yang melumuri masa hidupnya dalam berkarir, karena dia terlibat dalam operasi militer pembantaian kaum santri dan para ekonom lokal yang diyakini terlibat jaringan terorisme.

Baginya, sisa hidupnya dalam masa pensiunan tersebut tidak cukup untuk menebus dosa. Sebab, dia telah tahu bahwa kaum santri dan ekonom lokal itu tidak terlibat dalam jemaah terlarang seperti yang dipersepsikan pemerintah. Operasi itu adalah rekayasa politik global untuk meloloskan pasar bebas. Hanya saja, Ki Wono tidak putus harapan.

Dengan memilih bermukim di lereng gunung dan menjauh dari keramaian kota, Ki Wono berharap dapat dengan mudah menghapus nama dan kenangan hitam masa lalunya. Namun niat mengubur namanya tidak berhasil. Pada akhirnya Ki Wono harus menerima namanya kembali dengan utuh karena berhasil melepaskan penduduk desa yang ditahan tentara karena tidak memperbolehkan sumber air kehidupan masyarakat setempat di rebut alih oleh pemerintah yang berkolaborasi dengan para pelaku bisnis kapitalis. Akhirnya, selamat membaca dan menikmatinya.

Roman Kisah Cinta Di Pesantren

Kasih itu sabar, kasih itu murah hati ia tak cemburu, ia tidak menegakkan diri dan tidak sombong, ia tidak melakukan kesalahan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, ia tidak berduka cita karena ketidakadilan. Tetapi, karena kebenaran, ia tidak menutupi segalanya, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu dan sabar menanggung segala suatu apapun yang terjadi.

Kutipan di atas diambil dari sebuah film yang berjudul A Walk To Remember. Di mana film tersebut menceritakan tentang kisah seseorang dalam mencari cinta. Ngomongin cinta tidak pernah ada batasnya. Sebab cinta ada sejak manusia dilahirkan kedunia oleh Tuhan. Cinta merupakan anugerah Tuhan yang paling mulia dibandingkan yang lain. Tuhan menciptakan makhluknya dengan cinta. Karena cintalah manusia ada.

Kehadiran cinta di mata manusia tidak dapat ditolak lagi. Cinta adalah ruh manusia. Ruh yang menggerkakan manusia untuk berkehendak, berkomunikasi, bertetangga, dan bahkan berhubungan. Maka jika ruh itu hilang, manusia tidak lagi dibimbing oleh kasih sayang. Sehingga manusia tersebut hanya dirasuki oleh hasutan Syetan yakni kebencian, kesombongan, kedurhakaan dan lain-lain.

Sedangkan dengan cinta kita dapat menembus segala ruang, batas, dan kelas. Sebut saja Rabi’ah Al Adawiyah. Sosok perempuan yang tidak jauh beda dengan budak. Namun, karena cinta suci yang dimilkinya terhadap yang Maha Kuasa ia bisa melebihi yang lain.

Berbeda dengan orang-orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang. Orang tersebut hanya diselimuti oleh rasa kebencian, kesombongan, dan kerakusan. Maka dari situlah sebenarnya terbentuknya sekat-sekat kelas, borjuis, ploretal, bahkan feodalisme. Kelas borjuis memandang kelas ploretal sebagai orang yang tak pantas untuk dikasihani atau disayangi. Karena anggapan rendah terhadap kelas ploretar tersebut yang mana kaum ploretar tidak memiliki harta yang sepadan dengan kelas borjuis. Akhirnya bukan rasa kemanusian yang tumbuh dalam hati kelompok borjuis tapi rasa kerakusan yang dijunjung tinggi oleh mereka. Sehingga terjadi ketimpangan yang menyebabkan hidup ini tidak harmonis antara orang miskin dan kaya.

Hal serupa juga digambarkan dalam buku Layla Majnun (Buku terbitan Navila). Bagaimana cinta Qais terhadap Layla tidak kesampaian karena perbedaan kelas atau kasta yang ditonjolkan oleh kelompok mereka. Cinta tulus yang datang dari kedua sejoli terhalangi oleh perbedaan kasta mereka. Sehingga keduanya tidak mendapat kebahagian dalam hidup sampai ajal menjemput keduanya. Lagi-lagi karena perbedaan, cinta tersebut tidak dapat bersatu.

Perbedaan sering kali disalahartikan oleh sebagian umat manusia. Perbedaan ternyata bukan diartikan sebagai rahmat bagi umat manusia yang dapat menumbuhkan keharmonisan dalam kehidupannya. Akan tetapi perbedaan malah menjadi malapetaka baginya. Semisal, tindakan anarkisme yang dilakukan oleh salah satu kelompok masyarakat terhadap penyerbuan kelompok Ahmadiyah di Lombok yang baru terjadi kemarin. Atau penghakiman terhadap pengikut ajaran Lia Eden di Jakarta.

Tindakan kekerasan atau terorisme di atas tidak lepas dari kontek perbedaan baik itu perbedaan yang dilatar belakangi oleh ideologi, agama, dan laia-lain. Perbedaan semestinya menjadikan kita bersatu padu membangun negara yang harmonis dan sejahtera bukan malah sebaliknya.

Kebiasaan seperti di atas didobrak oleh Shachree M. Daroini lewat novelnya yang berjudul “Love in Pesantren”. Pesantren sebagai sub kultur budaya Indonesia yang mengajarkan ilmu-ilmu tentang agama yang menjadi ciri khas pesantren. Lembaga yang juga menyimpan tradisi feodalisme yang cukup tingii dan masih kental sampai sekarang.

Lewat novelnya itu Shachree M. Daroini menceritakan sosok santri yang bernama Komarudin dengan berani telah menaruh hati terhadap puteri ustadznya yang bernama Siti. Ketulusan cinta yang datang dari keduanya membuat sistem feodalisme pesantren berdiri kokoh dengan sombong.

Kasih sayang yang datang dari seorang santri terhadap keluarga pesantren merupakan hal yang dilarang oleh hukum keluarga pesantren. Hukum itu diberlakukan demi menjaga nama besar pesantren. Sebab bila salah satu puteri Kyai menjalin hubungan cinta dengan santrinya akan menurunkan kredibilitas keluarga Kyai. Layaknya kasta Sudera berhubungan cinta dengan kasta Brahma.

Kehormatan bukan dicari, sebab kehormatan datang apabila dibarengi dengan kasih sayang kepada semua orang. Dan sebab dengan ketulusan cinta pula wajah bumi akan tersenyum bagai surgawi. Kebaikan selalu ditawarkan oleh jiwa manusia akan mengubah kehidupan jadi sekawanan lebah di penuhi madu yang manis. Jiwa manusia pun akan semakin indah dan damai jika sebuah ungakapan cinta yang indah dan tulus lahir dari lahiriah dan bathiniah untuk mencapai sang Khaliq, sang Pemilik cinta sejati, dialah Allah. Tak ada kuasa lain dari sebuah cinta kecuali milik-Nya, tak ada nafsu lain dari cinta kecuali cinta-Nya (Halm. 271).

Cinta bukanlah nafsu dan cinta bukanlah dosa yang dibebankan oleh Tuhan kepada manusia. Tapi, cinta adalah anugerah yang diberikan kepada setiap insan. Sebab tak ada ajaran mana pun yang melarang umatnya untuk saling mencintai dan menyangi. Karena cintalah umat manusia bisa hidup bersandingan dengan damai. Wallahua’lam

Salam Teruntuk Nabi Besar Muhammad SAW

Kemarin tepat tanggal 20 Maret 08 merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tidak seperti dulu, waktu aku masih di rumah dan pesantren yang biasa merayakan hari lahir Nabi terakhir. Sudah empat tahun ini aku tidak merayakannya. Bukan persoalaan apa-apa atau tidak ada waktu tapi, hanya persoalaan mendasar saja. Yakni persolaan malas.

Seharusnya saya bisa merayakannya lewat media lain. Karena saya sudah empat tahun menjadi mahasiswa, setidaknya saya bisa merayakannya lewat publikasi tulisan di media. Alternatif itu juga saya tidak melakukan. Aku merasa berhutang pada beliau. Meski telah lewat bulan Maulid, aku tetap akan bershalawat untuk beliau.

Allhumma Shalli Ala Sayyidinaa Muhammad

Kurindukan mereka ya Rasul Allaah

Dini hari di Madinah al-Munawwarah

Kusaksikan para sahabat berkumpul di masjidmu

Angin sahara membekukan kulitku
Gigiku gemertak
Kakiku berguncang
Tiba-tiba pintu hujrah-mu terbuka
Engkau datang, ya Rasul Allaah
Kupandang dikau:
Assalamu alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullaah
Assalamu alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullaah
Kudengar salam bersahut-sahutan
Kau tersenyum, ya Rasul Allaah, wajahmu bersinar
Angin sahara berubah hangat
Cahayamu menyelusup seluruh daging dan darahku
Dini hari Madinah berubah menjadi siang yang cerah
Kudengar engkau berkata:
Adakah air pada kalian?
Kutengok cepat gharibah-ku
Para sahabat sibuk memperlihatkan kantong kosong
Tidak ada setetes pun air, ya Rasul Allaah
Kusesali diriku
Mengapa tak kucari air sebelum tiba di masjidmu
Duhai bahagianya, jika kubasahi wajah dan tanganmu
Dengan percikan-percikan air dari gharibah-ku
Kudengar suaramu lirih
Bawakan wadah yang basah
Aku ingin meloncat mempersembahkan gharibah-ku
Tapi ratusan sahabat berdesakan mendekatimu
Kau ambil gharibah kosong
Kau celupkan jari-jarimu
Subhanallaah, kulihat air mengalir dari sela-sela jarimu
Kami berdecak, berebut, berwudhu dari pancuran sucimu
Betapa sejuk air itu, ya Rasul Allaah
Betapa harum air itu, ya Rasul Allaah
Betapa lezat air itu, ya Rasul Allaah
Kulihat Ibnu Mas’ud mereguknya sepuas-puasnya
Qad qamatish shalaah
Qad qamatish shalaah
Duhai bahagianya shalat di belakangmu
Ayat-ayat suci mengalir dari suaramu
Melimpah memasuki jantung dan pembuluh darahku
Usai shalat kaupandangi kami
Masih dengan senyum yang sejuk itu
Cahayamu, ya Rasul Allaah, tak mungkin kulupakan
Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudera dirimu
Ingin kujatuhkan sebutir debuku dalam sahara tak terhinggamu
Kudengar engkau berkata lirih:
Ayyul khalqi a’jabu ilakum iimaanan?
Siapa makhluk yang imannya paling mempesona?
Malaikat, ya Rasul Allaah
Bagaimana malaikat tak beriman,
bukankah mereka berada di samping Tuhan
Para Nabi, ya Rasul Allaah
Bagaimana Nabi tak beriman,
bukankah kepada mereka turun wahyu Tuhan
Kami para sahabatmu
Bagaimana kalian tidak beriman
bukankah aku ditengah-tengah kalian
telah kalian saksikan apa yang kalian saksikan
Kalau begitu siapakah mereka ya Rasul Allaah?
Langit Madinah bening, bumi Madinah hening
Kami termangu
Siapa gerangan mereka yang imannya paling mempesona?
Kutahan napasku, kuhentikan detak jantungku, kudengar sabdamu
Yang paling menajubkan imannya
mereka yang datang sesudahku
beriman kepadaku
padahal tidak pernah melihat dan berjumpa denganku
Yang paling mempesona imannya
mereka yang tiba setelah aku tiada
yang membenarkanku
tanpa pernah melihatku
Bukankah kami ini saudaramu juga, ya Rasul Allaah?
Kalian sahabat-sahabatku
Saudaraku adalah mereka yang tidak pernah berjumpa denganku
Mereka beriman pada yang gaib, mendirikan shalat,
menginfakkan sebagaian rezeki yang Kami berikan kepada mereka
Kami terpaku
Langit Madinah bening, bumi Madinah hening
Kudengar lagi engkau berkata:
Alangkah rindunya daku pada mereka
Alangkah bahagianya aku memenuhi mereka
Suaramu parau, butir-butir air matamu tergenang
Kau rindukan mereka, ya Rasul Allaah
Kau dambakan pertemuan dengan mereka, ya Nabi Allaah
Assalamu’alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullaahi wa barakaatuh
(Gubahan dari Hadis pada Tafsir ad-Durr al- Mantsur, berkenaan dg Surat Al-Baqarah ayat 3 oleh Jalaluddin Rakhmat 1415 H)

Alumni Luar Negeri, Aset Siapa?

Erie Sudewo
(Social Entrepreneur)

Karena cuma menghafal nama dan angka tahun, peristiwanya luput dimaknai. Karena tak tahu peristiwanya, benang merah misteri yang membalut peristiwa dari masa ke masa juga sulit disidik. Karena tak bisa disidik, ke mana bergeraknya juga gagal diprediksi. Karena gagal memprediksi, itu tanda berpikir kritis tak dilatih.

Karena tak kritis, salah satu dampaknya anggap sepele sejarah. Karena anggap sepele sejarah, seolah hari esok lepas dari kemarin. Karena tak ada hubungan kemarin dan esok, hari ini kita kebingungan. Karena bingung, jati diri pun lepas.

Karena tak mahfum jati diri, krisis identitas makin parah. Karena krisis identitas, bangsa ini jadi santapan empuk asing. Karena jadi santapan empuk, mudah sekali diakali. Karena mudah diakali, masa depan bangsa ini tergadai. Entah apakah metode hafalan ini strategi kolonial menutupi begitu banyak kekejian dan keculasan mereka. Ya dan tidaknya tergantung sudut pandang. Yang pasti sejarah bukan kumpulan peristiwa tak bermakna.

Ada tonggak-tonggak yang dipahat founding fathers. Itu biduk yang memandu arah masa depan. Memang siapa bilang menggapai cita-cita mudah. Tak ada satu pun bangsa yang berleha-leha lantas sukses. Celakanya, bangsa yang gemar melahap mi instan ini seolah dalam meraih masa depan cukup menyeduh beberapa menit.

Sebagian policy maker kita memang mesti belajar merumus kebijakan. Untuk diri sendiri dan partai, mereka tak usah diajari. Mereka maestro, hingga negara pun rela dilego. Jika strategi jual negara laku dijual, mereka pasti jadi guru besar dunia. Negara ini sudah miskin. Mereka yang menjual negara, kaya-kaya bukan?

Setiap tahun pasti banyak terjadi peristiwa. Kita coba pilah peristiwa yang membuat bangsa ini tak jelas bergerak ke mana. Yang menarik, tahunnya kebetulan berada di sekitar angka tujuh. Lantas sibak di tiap pergantian 10 tahunan. Tapi, camkan, angka 7 dan 10 hanya kebetulan sejarah. Perhatikan saja pada peristiwanya. Lantas telusuri kausalitas makna di baliknya.

Tahun 1957 diam-diam FEUI memulai hubungan dengan Harvard University. Bentuk kerja samanya beasiswa studi. Bagi negara Paman Sam, kerja sama ini amat strategis. Alasannya tentu politik, yang akhirnya mengarah pada ekonomi.

Jangka pendeknya perang dingin antara Rusia dan Amerika sedang hangat-hangatnya, di samping poros Jakarta-Peking sudah dihembus-hembus Soekarno. Jangka menengah mendidik mahasiswa dan pengajar FEUI sebanyak-banyaknya, bukankah langkah besar.

Jangka panjangnya sadar atau tidak, para alumni ini sedang dikader Amerika. Jika 10 atau 20 tahun kelak jadi pejabat, bukankah itu aset? Tapi, aset siapa? Jangan lupa pepatah there is no free lunch bukan tanpa makna. Tahun 1967 Orla baru saja tumbang. Blok Eropa Timur yang dimotori Rusia tertohok. Jakarta-Peking pun dikubur.

Orang-orang Cina di Indonesia resah. Jika ingin selamat, mereka harus beralkulturasi. Sebagian nama Cina pun diubah. KO-nya Blok Timur, kemenangan Blok Barat. Orba pun ditegakkan.

Lirikkan pada Barat, segera terjawab karena kerja sama beasiswa telah hasilkan doktor-doktor ekonomi. Segera di Bappenas dibuat tim yang melibatkan para alumni dan institusi Harvard. Tim ini jadi thingtank pembangunan 25 tahun Indonesia ke depan. Untuk pertama kali era ini ditandai dengan munculnya istilah mafia Berkeley.

Untuk itu Amerika serius kerahkan segala sumber daya. Mengapa? Karena dalam konstelasi politik, Indonesia di masa Soekarno merupakan kekuatan raksasa. Di Asia Tenggara ditakuti. Di Australia amat diperhitungkan. Apa yang dikatakan Soekarno sering mengguncang dunia. Tak heran saat itu sosoknya kerap disejajarkan dengan JF Kennedy dan B Tito (Polandia). Malah Mahathir yang sukses memajukan Malaysia oleh sebagian pihak dianggap ‘Soekarno Kecil’.

Sayangnya seperti yang Richard Nixon katakan: ”Kelemahan Soekarno terletak pada keyakinannya bahwa revolusi belum dan tidak akan pernah selesai”. Artinya, pembangunan tidak hanya dengan pidato retorik, tetapi juga harus dengan bekerja. Tahun 1977 Andi Hakim Nasoetion (IPB) menulis artikel menarik. Saran pertamanya fakultas pertanian di Irian, jangan belajar pertanian sawah. Konsentrasilah pada budidaya sagu. Kedua, bangun pusat-pusat pertukangan di sekitar belantara hutan Kalimantan.

Di Indonesia, saran dari bukan teknokrat telanjur dianggap gangguan. Yang terjadi seluruh fakultas pertanian di Indonesia belajar tentang sawah. Akibatnya, jika tak makan nasi, seolah-olah jadi warga kelas dua. Padahal, kondisi Irian tak layak disawahkan. Kini 220 juta orang Indonesia harus makan nasi. Implikasinya Indonesia jadi negara pengimpor beras terbesar dunia.

Jika saran Andi Hakim Nasoetion digugu, diversifikasi pangan telah terjadi. Usul itu juga bukan hanya mewarisi kearifan lokal, malah bakal menghasilkan produk turunan lainnya. Pusat pertukangan dan sekolah kejuruan perkayuan di Kalimantan pun tak pernah terbangun. Orba lebih suka mencacah hutan dengan membagi-bagi HPH. Jika pusat pertukangan terbangun, Indonesia akan melahirkan banyak ahli pertukangan.

Hutan juga tak akan sekejap gundul karena pertukangan adalah proses jadi profesional. Dengan pertukangan, reboisasi lebih mudah dilakukan. Sementara itu, HPH cenderung mewariskan masalah. Hutan gundul, reboisasi pun akal-akalan. Lingkungan rusak, banjir bandang pun kerap menerjang. Tahun 1987 dalam sebuah seminar di Museum Satria Mandala Jakarta, Dorodjatoen Koentjoro Jakti mengatakan: ”Pada tahun 2.000 nanti akan ada bangsa yang terbukti tak tahu akan dibawa ke mana bangsanya ini.”

Pernyataan ini mengejutkan sebab sangat berseberangan dengan rekan-rekan pengajarnya. Bukankah sobat-sobatnya yang mengarsiteki pembangunan Indonesia? Pernyataan Dorodjatoen menjawab tuntas rumor yang berkembang: Mengapa dia tidak pernah jadi menteri?

Tahun 1997 ucapan Dorodjatoen terbukti. Indonesia dilumat krisis. Diawali dengan moneter, krisis ini terus menebar petaka ke seluruh sektor yang hingga hari ini tak juga siuman.

Akar penyebab diutak atik. Yang dari sekian banyak pendapat, moral buruk dituding jadi biangnya. Moral buruk memang tampak di segenap sisi. Pembangunan selama Orba melahirkan banyak wajah minor. Korup, potong kompas, serba instan, uang pelicin, basa basi, slogan kosong, hingga P4 pun cuma ‘harmoko’, hari-hari omong kosong.

Yang alergi pada mafia Berkeley, menuding kelompok ini punya andil besar meremukkan fondasi perekonomian nasional. Usulan Andi Hakim Nasoetion tak dapat tempat. Bukan hanya mikro, juga amat tak gengsi karena bicara sawah dan pertukangan. Jelang krisis moneter, terjadi dialog opini antara kubu Widjojonomics dan Habibienomics. Habibie pun ditertawai karena membaca clash fow pun diragukan. Lebih-lebih Habibie tawarkan pendidikan yang siap pakai.

Artinya, masuk dalam kelas buruh dan paling banter supervisor. Apa yang dibawa Habibie dan Andi Hakim Nasutioen hanya sektor mikro. Sulit bawa bangsa ini pada kegemilangan. Hasilnya berbagai sekolah kejuruan tutup panggung. STM Pembangunan yang pernah dibanggakan, tak lagi dilirik. SMEA seolah jadi sekolah buangan. Sekolah menengah analis kimia, sayup-sayup sampai. Bahkan, SPG pun mati angin tak punya wibawa apa-apa.

Akhirnya, pada 2007 masyarakat antre minyak tanah. Sebuah fenomena yang hanya layak di zaman kolonial. Antre minyak di atas sumber daya minyak, ini cuma ada di Indonesia. Andai para pemegang kebijakan sesekali bangun sebelum Shubuh untuk antre minyak, mereka pasti bakal memaki pembuat kebijakan.

Hidup ini realistis menjejak bumi. Bukan asyik dengan pendekatan makro, disambut senyum dan tepukan riuh pidato sana sini. Apalagi yang bertepuk tangan hanya segelintir orang, terutama oleh mereka yang asing-asing. Tanpa pesan, penerima beasiswa dapat kesempatan sekolah sebagai anugerah. Karena anugerah, pemberi beasiswa dianggap penjamin masa depan. Karena menganggap dewa, apa pun titahnya dilaksanakan tanpa reserve.

Karena tanpa reserve, apa pun yang diminta diserahkan yang terbaik. Karena yang terbaik diserahkan, hingga perparkiran pun dikelola secure parking. Karena dari parkir hingga eksplorasi sumber daya oleh asing, masa depan negara ini tak jelas ke arah mana. Tanpa pesan, negara ini jatuh.

Mafia Berkeley sebelumnya dituding hanya di satu PT. Kini yang menjabat Menko Ekuin, Menkeu, dan beberapa direktur di Depkeu berasal dari PT yang lain. Soalnya mengapa pendekatan makro tetap jadi fondasi pembangunan?

Ingat there is no free lunch. Tanpa pesan kebangsaan, alumni pendidikan luar negeri telah jadi aset mereka yang asing-asing. Sampai kapan ini disadari?

Ikhtisar:

– Agenda asing di Indonesia sangat banyak.
– Kebijakan pemerintah pun sering mengadopsi kepentingan luar negeri.

~Republika. Rabu, 20 Februari 2008~

Teruntuk Manisku

Menjadi seseorang yang kau cintai sangat sulit bagiku untuk membalas seperti yang kau mau. Bukan berarti aku tidak bisa mencintaimu. Atau aku tidak bisa mebalas cintamu. Sederhana bagiku. Aku melihat kau masih belum mempercayaiku untuk mencitaimu. Lalu apa yang harus aku katakan pada dunia? Apabila kau telah terlanjur mencitaiku atau aku telah terlanjur mencintaimu.

Kata-kata itu engkau ucapkan ketika kita telah menjalin hubungan kasih sayang. Jalinan kasih sayang kita belumlah lama, masih terhitung dini. Terhitung muda sebab kita belum sama-sama mengerti tentang apa yang kita suka satu sama lain. Soal selera, warna, hobi dan obrolan.

Tapi, kau sudah ucapkan kata Cinta. Entah apa yang membuatmu yakin kau mencitaiku? Akupun heran dan sempat bertanya-tanya. Jangan-jangan kau hanya mau menggobaliku atau ada maksud tersembunyi dari ucapan manismu?

Aku tak peduli semua itu. Mencitai atau dicintai merupakan dua persoalaan serius bagiku. Mencitai memiliki konsekwensi untuk selalu memberi terhadap objek yang dicintai. Ia berberposisi menajdi subjek yakni pemberi. Sedangkan dicintai berposisi sebagai penerima atau objek dari yang mencintai.

Persoalaannya adalah mana yang lebih baik kita miliki atau kita sandang? Tentunya, semua itu tergantung dari sudut pandang kita. Lebih baik “mencintai atau dicntai”.

The Death of Sukardal

Sukardal, 53, tukang becak mati gantung diri, karena becaknya tgl 2 juli 1986 disita petugas tibum. Seorang dari sekian ratus ribu yang kehilangan mata pencarian di indonesia. ia mati tapi tidak membisu. Sukardal menggantung diri pada umurnya yang ke-53.

Tukang becak tua ini kehilangan becaknya, pada tanggal 2 Juli 1986 malam, di sebuah perempatan Kota Bandung. Para petugas Tibum, sesuai dengan peraturan dan perintah atasan, menyita becak itu.

“Kasihan,” kata sebagian orang. “Kok sampai begitu,” kata sebagian yang lain. “Tapi putus asa adalah dosa,” kata para pemberi petuah (dan iklan tabib). “Ekstrem,” kata seorang pejabat. “Barangkali ada pihak ketiga,” kata pejabat lain.

Sukardal mungkin tidak tahu siapa pihak ketiga, siapa pihak pertama, siapa pihak kedua. Ia telah mencoba berebut mempertahankan becaknya dari sitaan petugas. Ia telah diseret ke arah parit. Ia telah menendang. Ia telah diseret lagi dan dinaikkan ke mobil. Ia telah berontak dan berhasil turun dari mobil.

Tapi ia melihat becaknya telah diangkut truk, ia melihat sumber hidupnya terbang, maka ia kembali meloncat ke arah mobil Tibum yang berjalan. Ia menggandul pada mobil itu, dan berteriak-teriak, “Saya mau bunuh diri …. Saya mau bunuh diri ….”

Dan benar: Sukardal kemudian menggantung diri, di sebuah pohon tanjung, di depan sebuah rumah di Jalan Ternate.

“Kasihan,” kata sebagian orang. “Kok sampai begitu,” kata sebagian yang lain. “Tapi kami hanya menjalankan tugas,” kata para petugas Tibum. “Dan pers jangan membesar-besarkan perkara ini,” kata seorang pejabat.

Apa yang besar sebenarnya? Apa yang kecil? Satu dari 18.000 becak di Kota Bandung adalah soal kecil. Seorang dari sekian ratus ribu orang yang kehilangan mata pencaharian di Indonesia kini adalah soal kecil. Lagi pula, pada saat satu Sukardal mati, di sebuah sudut, satu genius yang sama hebat dengan Habibie mungkin baru lahir di sudut tanah air yang lain. Penderitaan manusia adalah ombak yang tak bisa dielakkan dari sejarah sebuah bangsa….

Penderitaan manusia?

Beberapa saat sebelum mati, Sukardal menulis sepucuk surat wasiat. Ia bicara kepada anaknya yang sulung: “Yani, adikmu kirimkan ke Jawa, Bapak sudah tidak sanggup hidup. Mayatku supaya dikuburkan di sisi emakmu.” Dan Yani, 22 tahun, yang bersama tiga adiknya yang kecil-kecil tinggal di sebuah bilik 4 x 4 m (yang disewa), tak sanggup. Wasiat itu terlalu berat. Mengirimkan jenazah ke Majalengka dari Bandung, bagi mereka, bukan perkara kecil.

Apa yang kecil sebenarnya? Apa yang besar?

Seorang bapak yang selama ini sendirian merawat anak-anaknya, dan jarang marah, adalah sesuatu yang besar bagi anak-anak itu. Sebuah becak yang seharga Rp 50 ribu, dan baru saja lunas dicicil, adalah sesuatu yang besar bagi keluarga itu.

Satu setengah meter dari pohon tempat Sukardal mati, ada tembok. Di sana tertulis (kemudian dihapus oleh petugas kepolisian): “Saya gantung diri karena becak saya dibawa anjing Tibum”.

Becak saya, kata Sukardal. Ada kebanggaan memiliki. Ada rasa marah karena sebuah hak direbut. Ada makian: huruf-huruf itu memprotes dan sekaligus putus asa. Dengan kata lain, sebuah perkara besar, karena ia justru terbit pada seorang yang begitu kecil.

Orang yang kecil adalah orang yang memprotes dengan keyakinan tipis bahwa protes itu akan didengar, dan karena itu teriaknya sampai ke liang lahad.

Seperti sebuah sajak, ditulis oleh seorang penduduk Chichibu, di sebelah barat Tokyo, ketika Jepang belum lagi kaya di akhir abad lalu, setelah petani-petani miskin mencoba berontak di tahun 1884 dan kalah dan terkubur:

Angin bertiup
Hujan jatuh
Anak-anak muda mati.
Keluh kemiskinan
Berkibar seperti bendera . . .
Kata di nisan kami,
Yang tertimbun badai salju 1884,
Tak nampak oleh yang berkuasa
Maka di saat-saat begini
Kami harus menjerit setinggi-tingginya.

Sukardal juga sebenarnya mencoba menjerit tinggi-tinggi. “Kalau betul-betul negara hukum, Tibum harus diusut,” tulis tukang becak itu sebelum mati, pada tembok. Dia bilang, kalau betul-betul. Dia tidak bilang, karena ini negara hukum….

Sukardal meminta, dengan leher terjirat dan nyawa melesat, dan itu berarti dengan keras — karena ia sesungguhnya tidak begitu yakin.

Bagaimana ia bisa yakin? Ia pasti tahu ia bukan termasuk mereka yang bisa menang. Ia bahkan mungkin tak termasuk mereka yang pernah menang. Orang kecil adalah orang yang, pada akhirnya, terlalu sering kalah. Sukardal telah lewat setengah abad: sudah teramat tua untuk memilih kehidupan lain, terlampau tua untuk berontak. Tapi ia, yang tamat sekolah menengah, yang datang dari sebuah kampung di Yogya dan berdagang kecil di Jakarta, toh masih merasa perlu menuliskan pesannya. Ia mati, dan ia tidak membisu. Dan hidup kita, kata seorang arif bijaksana, terbuat dari kematian orang-orang lain yang tidak membisu.

Goenawan Mohamad

~Majalah Tempo, Edisi. 21/XIIIIII/19 – 25 Juli 1986~

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.