Kemiskinan adalah realitas sehari-hari kebanyakan masyarakat Indonesia. Ia hadir seperti sebuah tragedi yang senantiasa bergulir. Berita tentang perampokan, pencurian, bunuh diri dan lain sebagainya merupakan potret bagaimana kemiskinan dihadapi dan disiasati masyarakat kita.

Selain itu, kemiskinan juga berdampak pada banyaknya anak yang putus sekolah dan tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dalam kasus ini, sebagian mereka ada yang bekerja menjadi petani, nelayan dan lain sebagainya. Namun, banyak di antaranya memilih “jalan pintas” untuk bertahan hidup dengan mencuri, merampok, dan lain sebagainya.

Jika demikian, persoalaan kemiskinan dan pendidikan seperti sekeping mata uang. Orang yang miskin tidak dapat mengakses pendidikan dan orang yang tidak berpendidikan cenderung menjadi miskin. Hal ini menjadi persoalan mendasar di negeri yang banyak berlimpah kekayaan alam ini. Sudah 62 tahun negara ini merdeka, tapi kemiskinan masih merajarela dan pendidikan kita belum bisa mengangkat martabat masyarakat ke arah yang lebih baik.

Salah satu daerah tertinggal yang memiliki banyak problem kemiskinan dan pendidikan di Indonesia adalah Madura. Masyarakat Madura identik dengan kehidupan bercocok tanam dan melaut. Dalam setahun masyarakat bercocok tanam dengan tiga jenis tanaman, jagung/padi, kedelai, dan tembakau. Tiga jenis tanaman ini mengikuti pola pergantian dua musim yang biasa terjadi di Indonesia. Di antara ketiga jenis ini, tembakau lebih banyak menghasilkan daripada yang lainnya. Madura biasanya dicitrakan dengan tanah gersang, kurang subur dan kekurangan air.

Namun, saat kami melakukan penelitian di desa Tambuko kecamatan Guluk–Guluk, asumsi di atas sebagian besar terbantahkan. Sawah dan sistem irigasi pertanian tampak masih potensial memproduksi pertanian. Lalu mengapa kemiskinan masih menjadi kenyataan kebanyakan masyarakat Madura?

Mayoritas pencaharian masyarakat Madura adalah buruh tani. Tanah-tanah pertanian hanya dimiliki oleh tuan tanah (baca: pamong praja). Keadaan demikian membuat masyarakat seperti menjadi tamu di tanah mereka sendiri. Kami sempat tercengang ketika mendapati kenyataan bahwa pemuda di desa Tambuko berprofesi sebagai pencuri. Rata-rata mereka adalah generasi yang putus sekolah dan hanya mengenyam pendidikan dasar (SD).

Kemiskinan yang disertai dengan minimnya pendidikan di desa Tambuko membuat kebanyakan kaum muda memilih menjadi pencuri. Temuan kami di lapangan menyatakan bahwa mencuri di masyarakat Tambuko memiliki beberapa tingkatan. Pencuri yang prestisius adalah bila ia sudah mampu mencuri sapi. Asumsi ini muncul karena salah satu ukuran “kekayaan” adalah dengan banya Mencuri sapi dengan demikian seperti orang yang “mencuri identitas”, yaitu “mengambil” kelas sosial yang “hilang”. k memiliki sapi. Mencuri sapi dengan demikian seperti orang yang “mencuri identitas”, yaitu “mengambil” kelas sosial yang “hilang”. Bahkan yang menarik lagi jika orang kehilangan sapi maka ia akan mencari lewat orang-orang yang bersekongkol atau para juru kunci sapi. Sapi yang telah ditemukan akan dilakukan kontrak untuk menebusnya, biasanya sapi yang ditebus harganya lebih tinggi dari harga pasaran. Jika sapi dalam jangka lama tidak di tebus maka sapi akan di jual ke penjagal dengan harga yang lebih rendah.

Fenomena ini sangat menarik untuk diangkat ke dalam sebuiah film dokumenter, karena ia adalah kenyataan yang hidup di tengah masyarakat desa Tambuko. Terutama karena para pelaku pencurian banyak dilakukan oleh anak-anak yang putus sekolah. Di samping itu, fenomena menarik lainnya dari realitas masyarakat Tambuko adalah bila seorang anak/pemuda diketahui telah mencuri, maka orang tua akan mengirimkan anaknya ke pondok pesantren sebagai “rehablitasi”. Dalam konteks ini, pesantren menjadi semacam ruang “eskapisme” dari persoalan moral di tengah masyarakat.