Oleh; Misbah El Munir*

Benarkah seorang ibu hanya berkewajiban mengurus rumah tangga atau malah berkarir di luar rumah? Wacana tentang tanggung jawab ibu dalam rumah tangga sudah lama menjadi kontroversi. Sehingga kontroversi ini menjadi tarik ulur bagi kaum perempuan dan laki-laki dalam keluarga. Banyak kalangan berpendapat bahwa seorang ibu hanya berkewajiban mengurus rumah tangga saja. Bahkan, yang lebih ekstrem lagi seorang ibu tidak boleh keluar rumah tanpa seizin suaminya.

Pekerjaan ibu yang cuma berfokus dalam ranah rumah tangga merupakan hasil ekstrem pembagian tugas kerja dalam rumah tangga. Seorang ibu ideal adalah mengurus rumah. Hanya saja, dikotomi tugas telah memunculkan anomali. Sering kali tindakan kekerasan laki-laki menimpa seorang ibu. Tidak jarang kita melihat, mendengar bahkan menyaksikan sendiri kekerasan terhadap ibu rumah tangga.

Fenomena itu ternyata mendapat respon serius dari berbagai kalangan, termasuk dari kaum perempuan sendiri. Sehingga banyak Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) dan organisasi keperempuanan berdiri demi membela hak-hak wanita dan ibu rumah tangga. Organisasi wanita ini bertujuan memperjuangkan posisi wanita dan ibu rumah tangga yang semestinya. Sebab posisi perempuan selalu saja termarginalkan dalam kehidupan sosial masyarakat makin tumbuh subur.

Termaginalnya kaum perempuan dan atau ibu rumah tangga bukanlah sebuah takdir yang ditentukan oleh Tuhan. Akan tetapi berangkat dari kehidupan rumah tangga yang menempatkan wanita pada posisi nomor dua, kelas kedua. Sehingga masyarakatpun seakan menerima dengan biasa dan tidak menganggap hal itu menbawa dampak buruk.

Konstruksi sosial yang menempatkan seorang ibu hanya mengurus rumah tangga merupakan awal dari keterasingan perempuan dari realitas sosial. Keterasingan ini merupakan titik awal dari penindasan laki-laki terhadap kaum Hawa. Secara tidak sadar konstruksi ini membawa implikasi negatif terhadap kehidupan rumah tangga.

Implikasinya adalah “penyalahgunaan kekuasaan dan posisi” dalam kehidupan rumah tangga. Dengan semena-mena kaum laki-laki atau suami-suami menyempitkan kemampuan ibu. Misalnya kaum ibu dianggap hanya bisa masak, mengurus anak dan mengurus suami. Kiranya tiga hal tersebut yang bisa dilakukan soeorang ibu. Selain dari itu mungkin tidak ada.

Dari sinilah keterbelengguan seorang ibu mulai nampak terasa. Bukan rahasia lagikalau dalam rumah tangga ternyata ada ketimpangan. Yakni dilarangnya seorang ibu untuk berkarir dan berada di luar rumah. Padahal, kepala rumah tangga bernama bapak belum tentu bisa menjamin kesejahteraan rumah tangganya.

Dalam dunia karir laki-laki ataupun perempuan sebetulnya tidaklah jauh beda kemampuannya. Sehingga jenis kelamin bukanlah tolak ukur dari kemampuan seseorang. Kemampuan seseorang hanya bisa diukur dari kreatifitas dan ilmunya. Larangan untuk ibu rumah tangga keluar rumah atau berkarir merupakan kesimpulan yang salah.

Kesejahteraan dan keutuhan rumah tangga tidak hanya terletak pada seorang suami yang sering dikatakan sebagai tulang pungungnya. Ngomongin kedua hal itu, posisi ibu juga berperan penting. Kedua belah pihak ini merupakan satuan zat yang tidak bisa dipisahkan.

Sadar Posisi

Menempatkan posisi diri secara semestinya merupakan tindakan yang profesional. Secara fungsional, ibu sebagai orang yang melahirkan anak-anaknya jelas lebih mengerti bagaimana mendidik anak yang dilahirkanya itu. Ini kemudian yang menyeret ibu ke wilayah domestik. Tapi, bukan berarti selamanya ibu harus berada dalam rumah. Kesempatan untuk berkarir (publik) dan mengekspresikan kreativitasnya di luar rumah tetap harus ada. Namun, dengan catatan harus sadar peran dan sadar posisi.

Begitu juga dengan kepala rumah tangga. Dia tidak hanya berkewajiban mencari nafkah semata walaupun dia sebagai tulang punggung rumah tangga. Selain mencari nafkah yang harus dia berikan terhadap istri dan anaknya, ia berkewajiban memberi perhatian dan kasih sayang terhadap keluarganya. Perhatian dalam artian mengerti dan paham terhadap keadaan rumah tangga yang dibinanya. Sehingga otoritas yang dipegang bapak sebagai kepala rumah tangga tidak otoriter dan semena-mena.

Dalam membina rumah tangga yang baik bukan terletak pada posisi bapak atau ibu rumah tangga saja. Tapi, posisi keduanya sama-sama mempengaruhi. Bapak rumah tangga tidak akan berarti apa-apa tanpa ibu rumah tangga. Begitupun juga sebaliknya. Satu sama lain saling membutuhkan. Saling melengkapi antara kekurangan dan kelebihan di antara keduanya menjadi keharusan dalam membina rumah tangga.

Sehingga nantinya dominasi dan diskriminasi dalam kehidupan berumah tangga bisa diminimalisir. Menyadari posisi masing-masing akan tugasnya dalam kehidupan rumah tangga akan menghilangkan kecurigaan yang berlebihan di antara mereka.

Al-hasil, karir ibu di luar rumah bukan suatu hal yang tidak boleh dilakukan. Selama ibu-ibu memiliki kemampuan berkarier, mereka berhak mengaktualisasikan sebagaimana layaknya manusia yang lain. Tidak ada undang-undang dan hukum yang melarangnya selama mereka tidak meninggalkan kewajiban sebagai hamba Tuhan dan ibu rumah tangga yang baik.