Oleh: Misbah El Munir*

Ancaman terhadap Keberlangsungan kerukunan umat beragama di negeri ini berada di ujung tanduk. Pasalnya, bangsa yang selalu disebut-sebut sebagai umat yang dapat hidup dengan berbagai macam suku, entis, agama dan budaya sudah tidak lagi kita lihat dan rasakan.

Hal ini terbukti dengan terjadinya konflik antar agama di Ambon beberapa tahun yang lalu atau tindakan anarkisme oleh beberapa kelompok yang tidak bertanggung jawab terhadap golongan minoritas Islam yang mulai tumbuh di berbagai tempat. Semisal, pengusiran terhadap paham salafiyah di Lombok yang baru-baru ini terjadi dan masih banyak kejadian anarkisme yang lain.

Semua itu merupakan bentuk konkrit yang menggambarkan bahwa bumi pertiwi ini tidak lagi tentram dan damai untuk hidup saling berdampingan. Paham Pancasila yang telah disepakati bersama oleh para Founding Fathers negeri ini tidak sakral lagi. Bahkan yang lebih parah, beberapa kelompok dan daerah berbondong-bondong memaksakan diri untuk memberlakukan otonomi khusus sesuai penganut agama mayoritas.

Yang saya sayangkan adalah tindak kekerasan itu terjadi dan datang dari golongan manyoritas tersebut yakni orang-orang muslim sendiri. Padahal, kita sebagai umat yang menganut ajaran kedamaian ternyata tidak dapat kita praktekkan dilapangan. Bahkan cita-cita yang sangat mulia sekali dalam Islam untuk membentuk sebuah negara damai /Baldhatun Thaiyibatun Wa Rabbun Ghafur, ternyata sampai sekarang belum terwujud sama sekali.

Indonesia yang mayoritas penganut agama Islam seharusnya bisa mengawali dan memberikan contoh sebagaimana cita-cita luhur yang termaktub dalam Al-Qur’an tersebut. Di negeri ini, pada dasarnya telah banyak tokoh yang telah memulai untuk mewujudkan cita-cita Islam tadi. Semisal salah satu pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari yang juga termasuk tokoh pejuang negeri ini.

Beliau telah mencontohkan sikap tolerannya terhadap kaum muslim dan non-islam dengan menerimanya pancasila sebagai paham bangsa. Kalau kita melihat kebelakang tentang perdebatan pancasila sebagai paham Indonesai yang diwakili oleh berbagai tokoh agama ternyata berjalan cukup alot. Namun, beliau mengambil sikap yang sangat bijaksana sekali untuk negeri dan umat Islam. Hal itu pula yang mungkin beliau ingin wariskan kepada kita semua sebagai penerus cita-cta bangsa kedepan.

Maka, tidak berlebihan sekiranya kita menggantikan posisinya dalam mempraktekkan sifat-sifat terpuji beliau dan menanamkan sifat toleransi sejak dini kepada para pemuda. Sepatutnya kita sebagai generasi bangsa ini mewujudkan negeri yang damai dan tentram seperti yang diimpikan oleh para pahlawan terdahulu kita.

Mengingat negeri kita yang tidak habis-habisnya ditimpa bencana, baik gempa, tsunami, banjir, semburan lumpur panas, dan musibah lainya. Maka, sudah bukan saatnya lagi, kita berjuang demi kelompok, suku, etnis, dan agama sekalipun. Mari kita bangun dengan cinta dan kedamaian dan bangkit dari keterpurukan demi membangun negeri ini.!