Oleh: Misbah El Munir*

            HIV/AIDS telah menggerogoti bangsa Indonesia dan telah mematikan mereka yang masih berusia produktif yang seharusnya menjadi aset bangsa. Penyakit ini mematikan dengan cara yang lambat dan tidak dramatis sehingga tidak banyak yang menganggap ancaman kehancuran sudah di depan mata.

Semakin hari jumlah pengidap HIV/AIDS semakin besar, tetapi upaya penanganan yang cepat masih belum terpikirkan. Sayangnya, tidak semua masyarakat memiliki kesadaran tinggi akan bahaya HIV/AIDS dan penanggulanganya.

Di lain sisi, para pengidap seringkali terdiskriminasi dikalangan publik.  Tidak sedikit kita lihat para korban diberbagai daerah selalu dijauhi dan ditolak dalam pergaulan masyarakat. Sehingga Stigmatisasi dan diskriminasi ini membuat banyak pengidap HIV tidak mendapat hak-haknya sebagai manusia, misalnya, dikeluarkan dari pekerjaan, tidak mendapat santunan Jamsostek bila sakit, dihindari petugas kesehatan saat berobat, ditolak dalam pergaulan.

Meski telah terbentuk Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) di tingkat nasional maupun daerah, akan tetapi diskriminasi terhadap mereka terus berjalan santer. Hal yang demikian itu menjadi persoalaan kita semua. Para pengidap tidak jauh beda dengan manusia lainnya layaknya kita sebagai manusia yang terlahir ke dunia berhak untuk hidup, mendapat pelayanan publik, dan bergaul.

Namun, kenyataan dilapangan berbeda dengan apa yang kita harapakan. Dalam Memperingati hari HIV/AIDS se dunia 1 Desember ini merupakan moment yang harus kita kampanyekan kepada seluruh elemen masyarakat di bumi ini terutama kepada bangsa kita sendiri. Penyakit yang tidak pandang bulu ini bisa menjangkit siapa saja.

Oleh sebab itu, masalah HIV/AIDS kini sudah saatnya dijadikan sebagai masalah publik. Sebab, kebanyakan korban pengidap masih berusia produktif yang seharusnya menjadi penerus bangsa ini. Selama ini perhatian pemerintah terhadap hak para pengidap masih kurang. Itu pula yang menyebabkan pemerintah daerah terutama daerah-daerah miskin tidak bisa menangani berbagai persoalan yang selalu mendiskreditkan para korban.

Hal ini tercermin dari masih banyaknya para korban di berbagai daerah yang tidak mendapat pelayanan cepat tanggap di bumi pertiwi ini. Kenyataan seperti itu menyebabkan mereka banyak tersingkirkan dari masyarakat setempat. Misalnya, dihindari petugas saat berobat atau dijauhi teman-tamannya. Padahal mereka itu seharusnya mendapat pelayanan sebagaimana mestinya.

Jika kita berbicara dari konteks kemanusian maka yang semestinya terjadi adalah tidak adanya diskriminasi antara sesama manusia. Bila kita lihat dari segi yang berbeda memang para pengidap HIV/AIDS telah terjangkit penyakit menular dan mematikan. Namum, bukan lantas kita harus menghindari mereka sebagai orang yang terjangkit HIV/AIDS atau penyakit menular secara terbuka.

Terlepas dari korban atau bukan, kita mencatat, suatu bentuk perlakuan tidak adil yang telah sering diekspos oleh media massa adalah diskriminasi para korban. Diskriminasi yang timbul bukan karena sifat penyakit mematikan atau menular tetapi karena stigma yang dibangun oleh masyarakat, yakni penyakit tersebut merupakan kutukan dari Tuhan. Anggapan masyarakat orang yang terjangkit tersebut harus dihindari karena telah dikutuk oleh Tuhan. Maka dari situlah timbul stigma negatif dan ketidak pedualian masyarakat akan para korban tersebut. Stigmatisasi dan diskriminasi itu berlangsung sampai sekarang.

Di tengah mengguritanya penyakit HIV/AIDS, maka sangat dibutuhkan sebuah penanganan khusus untuk dapat melindungi para korban dari berbagai diskriminasi dan dapat meminimalisir terjangkitnya HIV/AIDS. Harapan kita tentu saja, pihak-pihak yang selama ini dibentuk oleh pemerintah dalam menangani HIV/AIDS seperti KPA (Komisi Penanggulangan HIV/AIDS) dapat menjalankan tugasnya semaksimal mungkin. Supaya penyakit tersebut tidak banyak memakan korban.

Semisal, mengadakan penyuluhan terhadap masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS dan penyuluhan untuk para korban. Tidak kalah pentingnya juga yaitu memberikan sebuah pemahaman terhadap masyarakat agar tidak mengucilkan para korban. Sehingga mereka dapat diterima dengan layak dikalangan masyarakat pada umumnya.

Perlu di catat di sini yaitu tentang perlunya penanaman kesadaran sejak dini terhadap masyarakat akan bahaya HIV/AIDS. Penyakit ini akan menyerang siapa saja tanpa mengukur usia. Menumbuhkan kesadaran sejak dini merupakan imfestasi mendatang yang dapat kita harapkan bagi masyarakat bisa memeranginya. Sehingga sudah terlahir kesadaran yang melekat di diri masing-masing individu masyarakat akan bahaya penyakit tersebut.  

Meski demikian, berbagai persoalan di atas, tidak dapat kita embankan sepenuhnya kepada KPA, maka sebagai makhluk sosial harus kita emban bersama. Mereka perlu terus didorong untuk tetap bersemangat dalam menjalani hidup. Hemat saya, usaha untuk mendukung para korban tersebut harus kita mulai dari kesadaran diri kita pribadi dalam menumbuhkan rasa simpati. Dengan rasa simpati yang tinggi kita dituntut untuk mengubah pola pikir yang individualistik menjadi toleran.

Dengan demikian, semestinya tidak ada lagi ruang bagi langkah-langkah yang tidak berempati terhadap suka cita para korabn yang dideritanya. Kita terima mereka sebagai mana saudara kita sendiri dan Mencarikan solusi yang terbaik untuknya supaya dapat mengaktualisasikan hidupnya lebih berarti dengan masyarakat sekitar.