Kemarin tepat tanggal 20 Maret 08 merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tidak seperti dulu, waktu aku masih di rumah dan pesantren yang biasa merayakan hari lahir Nabi terakhir. Sudah empat tahun ini aku tidak merayakannya. Bukan persoalaan apa-apa atau tidak ada waktu tapi, hanya persoalaan mendasar saja. Yakni persolaan malas.

Seharusnya saya bisa merayakannya lewat media lain. Karena saya sudah empat tahun menjadi mahasiswa, setidaknya saya bisa merayakannya lewat publikasi tulisan di media. Alternatif itu juga saya tidak melakukan. Aku merasa berhutang pada beliau. Meski telah lewat bulan Maulid, aku tetap akan bershalawat untuk beliau.

Allhumma Shalli Ala Sayyidinaa Muhammad

Kurindukan mereka ya Rasul Allaah

Dini hari di Madinah al-Munawwarah

Kusaksikan para sahabat berkumpul di masjidmu

Angin sahara membekukan kulitku
Gigiku gemertak
Kakiku berguncang
Tiba-tiba pintu hujrah-mu terbuka
Engkau datang, ya Rasul Allaah
Kupandang dikau:
Assalamu alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullaah
Assalamu alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullaah
Kudengar salam bersahut-sahutan
Kau tersenyum, ya Rasul Allaah, wajahmu bersinar
Angin sahara berubah hangat
Cahayamu menyelusup seluruh daging dan darahku
Dini hari Madinah berubah menjadi siang yang cerah
Kudengar engkau berkata:
Adakah air pada kalian?
Kutengok cepat gharibah-ku
Para sahabat sibuk memperlihatkan kantong kosong
Tidak ada setetes pun air, ya Rasul Allaah
Kusesali diriku
Mengapa tak kucari air sebelum tiba di masjidmu
Duhai bahagianya, jika kubasahi wajah dan tanganmu
Dengan percikan-percikan air dari gharibah-ku
Kudengar suaramu lirih
Bawakan wadah yang basah
Aku ingin meloncat mempersembahkan gharibah-ku
Tapi ratusan sahabat berdesakan mendekatimu
Kau ambil gharibah kosong
Kau celupkan jari-jarimu
Subhanallaah, kulihat air mengalir dari sela-sela jarimu
Kami berdecak, berebut, berwudhu dari pancuran sucimu
Betapa sejuk air itu, ya Rasul Allaah
Betapa harum air itu, ya Rasul Allaah
Betapa lezat air itu, ya Rasul Allaah
Kulihat Ibnu Mas’ud mereguknya sepuas-puasnya
Qad qamatish shalaah
Qad qamatish shalaah
Duhai bahagianya shalat di belakangmu
Ayat-ayat suci mengalir dari suaramu
Melimpah memasuki jantung dan pembuluh darahku
Usai shalat kaupandangi kami
Masih dengan senyum yang sejuk itu
Cahayamu, ya Rasul Allaah, tak mungkin kulupakan
Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudera dirimu
Ingin kujatuhkan sebutir debuku dalam sahara tak terhinggamu
Kudengar engkau berkata lirih:
Ayyul khalqi a’jabu ilakum iimaanan?
Siapa makhluk yang imannya paling mempesona?
Malaikat, ya Rasul Allaah
Bagaimana malaikat tak beriman,
bukankah mereka berada di samping Tuhan
Para Nabi, ya Rasul Allaah
Bagaimana Nabi tak beriman,
bukankah kepada mereka turun wahyu Tuhan
Kami para sahabatmu
Bagaimana kalian tidak beriman
bukankah aku ditengah-tengah kalian
telah kalian saksikan apa yang kalian saksikan
Kalau begitu siapakah mereka ya Rasul Allaah?
Langit Madinah bening, bumi Madinah hening
Kami termangu
Siapa gerangan mereka yang imannya paling mempesona?
Kutahan napasku, kuhentikan detak jantungku, kudengar sabdamu
Yang paling menajubkan imannya
mereka yang datang sesudahku
beriman kepadaku
padahal tidak pernah melihat dan berjumpa denganku
Yang paling mempesona imannya
mereka yang tiba setelah aku tiada
yang membenarkanku
tanpa pernah melihatku
Bukankah kami ini saudaramu juga, ya Rasul Allaah?
Kalian sahabat-sahabatku
Saudaraku adalah mereka yang tidak pernah berjumpa denganku
Mereka beriman pada yang gaib, mendirikan shalat,
menginfakkan sebagaian rezeki yang Kami berikan kepada mereka
Kami terpaku
Langit Madinah bening, bumi Madinah hening
Kudengar lagi engkau berkata:
Alangkah rindunya daku pada mereka
Alangkah bahagianya aku memenuhi mereka
Suaramu parau, butir-butir air matamu tergenang
Kau rindukan mereka, ya Rasul Allaah
Kau dambakan pertemuan dengan mereka, ya Nabi Allaah
Assalamu’alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullaahi wa barakaatuh
(Gubahan dari Hadis pada Tafsir ad-Durr al- Mantsur, berkenaan dg Surat Al-Baqarah ayat 3 oleh Jalaluddin Rakhmat 1415 H)