Kasih itu sabar, kasih itu murah hati ia tak cemburu, ia tidak menegakkan diri dan tidak sombong, ia tidak melakukan kesalahan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, ia tidak berduka cita karena ketidakadilan. Tetapi, karena kebenaran, ia tidak menutupi segalanya, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu dan sabar menanggung segala suatu apapun yang terjadi.

Kutipan di atas diambil dari sebuah film yang berjudul A Walk To Remember. Di mana film tersebut menceritakan tentang kisah seseorang dalam mencari cinta. Ngomongin cinta tidak pernah ada batasnya. Sebab cinta ada sejak manusia dilahirkan kedunia oleh Tuhan. Cinta merupakan anugerah Tuhan yang paling mulia dibandingkan yang lain. Tuhan menciptakan makhluknya dengan cinta. Karena cintalah manusia ada.

Kehadiran cinta di mata manusia tidak dapat ditolak lagi. Cinta adalah ruh manusia. Ruh yang menggerkakan manusia untuk berkehendak, berkomunikasi, bertetangga, dan bahkan berhubungan. Maka jika ruh itu hilang, manusia tidak lagi dibimbing oleh kasih sayang. Sehingga manusia tersebut hanya dirasuki oleh hasutan Syetan yakni kebencian, kesombongan, kedurhakaan dan lain-lain.

Sedangkan dengan cinta kita dapat menembus segala ruang, batas, dan kelas. Sebut saja Rabi’ah Al Adawiyah. Sosok perempuan yang tidak jauh beda dengan budak. Namun, karena cinta suci yang dimilkinya terhadap yang Maha Kuasa ia bisa melebihi yang lain.

Berbeda dengan orang-orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang. Orang tersebut hanya diselimuti oleh rasa kebencian, kesombongan, dan kerakusan. Maka dari situlah sebenarnya terbentuknya sekat-sekat kelas, borjuis, ploretal, bahkan feodalisme. Kelas borjuis memandang kelas ploretal sebagai orang yang tak pantas untuk dikasihani atau disayangi. Karena anggapan rendah terhadap kelas ploretar tersebut yang mana kaum ploretar tidak memiliki harta yang sepadan dengan kelas borjuis. Akhirnya bukan rasa kemanusian yang tumbuh dalam hati kelompok borjuis tapi rasa kerakusan yang dijunjung tinggi oleh mereka. Sehingga terjadi ketimpangan yang menyebabkan hidup ini tidak harmonis antara orang miskin dan kaya.

Hal serupa juga digambarkan dalam buku Layla Majnun (Buku terbitan Navila). Bagaimana cinta Qais terhadap Layla tidak kesampaian karena perbedaan kelas atau kasta yang ditonjolkan oleh kelompok mereka. Cinta tulus yang datang dari kedua sejoli terhalangi oleh perbedaan kasta mereka. Sehingga keduanya tidak mendapat kebahagian dalam hidup sampai ajal menjemput keduanya. Lagi-lagi karena perbedaan, cinta tersebut tidak dapat bersatu.

Perbedaan sering kali disalahartikan oleh sebagian umat manusia. Perbedaan ternyata bukan diartikan sebagai rahmat bagi umat manusia yang dapat menumbuhkan keharmonisan dalam kehidupannya. Akan tetapi perbedaan malah menjadi malapetaka baginya. Semisal, tindakan anarkisme yang dilakukan oleh salah satu kelompok masyarakat terhadap penyerbuan kelompok Ahmadiyah di Lombok yang baru terjadi kemarin. Atau penghakiman terhadap pengikut ajaran Lia Eden di Jakarta.

Tindakan kekerasan atau terorisme di atas tidak lepas dari kontek perbedaan baik itu perbedaan yang dilatar belakangi oleh ideologi, agama, dan laia-lain. Perbedaan semestinya menjadikan kita bersatu padu membangun negara yang harmonis dan sejahtera bukan malah sebaliknya.

Kebiasaan seperti di atas didobrak oleh Shachree M. Daroini lewat novelnya yang berjudul “Love in Pesantren”. Pesantren sebagai sub kultur budaya Indonesia yang mengajarkan ilmu-ilmu tentang agama yang menjadi ciri khas pesantren. Lembaga yang juga menyimpan tradisi feodalisme yang cukup tingii dan masih kental sampai sekarang.

Lewat novelnya itu Shachree M. Daroini menceritakan sosok santri yang bernama Komarudin dengan berani telah menaruh hati terhadap puteri ustadznya yang bernama Siti. Ketulusan cinta yang datang dari keduanya membuat sistem feodalisme pesantren berdiri kokoh dengan sombong.

Kasih sayang yang datang dari seorang santri terhadap keluarga pesantren merupakan hal yang dilarang oleh hukum keluarga pesantren. Hukum itu diberlakukan demi menjaga nama besar pesantren. Sebab bila salah satu puteri Kyai menjalin hubungan cinta dengan santrinya akan menurunkan kredibilitas keluarga Kyai. Layaknya kasta Sudera berhubungan cinta dengan kasta Brahma.

Kehormatan bukan dicari, sebab kehormatan datang apabila dibarengi dengan kasih sayang kepada semua orang. Dan sebab dengan ketulusan cinta pula wajah bumi akan tersenyum bagai surgawi. Kebaikan selalu ditawarkan oleh jiwa manusia akan mengubah kehidupan jadi sekawanan lebah di penuhi madu yang manis. Jiwa manusia pun akan semakin indah dan damai jika sebuah ungakapan cinta yang indah dan tulus lahir dari lahiriah dan bathiniah untuk mencapai sang Khaliq, sang Pemilik cinta sejati, dialah Allah. Tak ada kuasa lain dari sebuah cinta kecuali milik-Nya, tak ada nafsu lain dari cinta kecuali cinta-Nya (Halm. 271).

Cinta bukanlah nafsu dan cinta bukanlah dosa yang dibebankan oleh Tuhan kepada manusia. Tapi, cinta adalah anugerah yang diberikan kepada setiap insan. Sebab tak ada ajaran mana pun yang melarang umatnya untuk saling mencintai dan menyangi. Karena cintalah umat manusia bisa hidup bersandingan dengan damai. Wallahua’lam