Oleh: Misbahol Munir*

Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Judul: Burung Tak Bernama

Penulis: Mustofa W. Hasyim

Editor: Retno Suffatni

Penerbit: Pustaka Sastra LKiS, Yogyakarta

Cetakan: Pertama, Januari 2006

Tebal: xiv + 215 Halaman

Hampir dapat dipastikan, semua orang yang masih menghirup udara segar di bumi ini menginginkan popularitas nama. Karena keinginan itulah, tidak sedikit di antara mereka yang rela berbuat apa saja agar popularitas itu bisa diraih.

Cukup banyak contoh yang menunjukkan hal itu. Salah satunya ialah perilaku para politisi kita yang sibuk kunjungan dan memberi bantuan untuk korban-korban di daerah-daerah yang terkena bencana alam beberapa waktu yang lalu. Dengan cara itu, mereka berharap dapat mendongkrak popularitasnya, tentu saja untuk kepentingan politik praktis.

Secara umum, kegilaan masyarakat terhadap gelar itu sudah menjadi problem masyarakat Indonesia. Guna memburu gelar dan popularitas, orang berbondong–bondong mencari cara jitu untuk meraihnya. Mulai dari cara yang baik hingga yang buruk bahkan terburuk. Misalnya, apa yang pernah terjadi di negara kita yaitu jual-beli gelar profesi yang sempat marak dilakukan oleh orang dari berbagai kalangan.

Jual-beli gelar itu membuktikan bahwa masyarakat masih gila dengan nama, status sosial, dan semacamnya. Memang nama dan gelar merupakan sebuah identitas atau tetengar (tanda) seseorang. Nama memberikan ciri atau karakter dan bahkan bisa menyelamatkan seseorang dari prasangka buruk. Sebut saja, Soekarno, Hatta, dan pahlawan bangsa yang lainnya. Dengan mendengar nama-nama itu saja, kita langsung tahu bahwa mereka adalah pejuang bangsa yang berani melawan penjajah atas nama kebebasan dan kemerdekaan.

Dari nama itu pula kita tahu karakter dan prilaku (track record) seseorang. Nama Hitler menunjukkan seorang pemimpin Jerman yang diktator. Dengan seperti itu, nama menjadi penting untuk diketahui. Karena alasan inilah, tidak mengherankan jika semua penduduk negeri ini diwajibkan memiliki kartu tanda penduduk (KTP) untuk memastikan masyarakat yang berdomisili di Indonesia adalah warga negara yang sah dan tidak terlibat sebagai anggota jaringan teroris.

Kegilaan masyarakat terhadap gelar yang marak terjadi belum lama ini itu dikritik keras oleh Musthofa W. Hasyim, lewat novelnya yang bertajuk Burung Tak Bernama. Musthofa memilih Ki Wono sebagai seorang pensiunan jendral dan juga keturunan kraton yang dijadikan tokoh sentral dalam novel ini.

Kritik keras itu tergambar dari i’tikad Ki Wono yang lebih memilih mengubur namanya. Keinginan untuk mengubur namanya itu disebabkan oleh bayang-bayang dosa masa silam yang terus menghantuinya. Dosa yang melumuri masa hidupnya dalam berkarir, karena dia terlibat dalam operasi militer pembantaian kaum santri dan para ekonom lokal yang diyakini terlibat jaringan terorisme.

Baginya, sisa hidupnya dalam masa pensiunan tersebut tidak cukup untuk menebus dosa. Sebab, dia telah tahu bahwa kaum santri dan ekonom lokal itu tidak terlibat dalam jemaah terlarang seperti yang dipersepsikan pemerintah. Operasi itu adalah rekayasa politik global untuk meloloskan pasar bebas. Hanya saja, Ki Wono tidak putus harapan.

Dengan memilih bermukim di lereng gunung dan menjauh dari keramaian kota, Ki Wono berharap dapat dengan mudah menghapus nama dan kenangan hitam masa lalunya. Namun niat mengubur namanya tidak berhasil. Pada akhirnya Ki Wono harus menerima namanya kembali dengan utuh karena berhasil melepaskan penduduk desa yang ditahan tentara karena tidak memperbolehkan sumber air kehidupan masyarakat setempat di rebut alih oleh pemerintah yang berkolaborasi dengan para pelaku bisnis kapitalis. Akhirnya, selamat membaca dan menikmatinya.

Iklan